Oleh: @Amad_Kocil
Aku berjalan dengan langkah gontai menuruni tangga rumahku menuju ruang tamu demi menuruti perintah ibuku untuk menjaga si idiot kesayangan semua orang dirumah ini, kecuali aku. Padahal malam ini seharusnya aku berada bersama teman-temanku menonton konser band favoritku yang sudah lama sekali ku tunggu namun terpaksa aku batalkan karena ibu melarangku dan mengurungku dirumah ini bersama seorang idiot
menyebalkan yang saat ini
sedang asyik bermain mobil-mobilan dihadapanku. Hanya mobil-mobilan itu mainan yang dimilikinya sampai sekarang. Dan sebentar lagi aku akan merusaknya seperti yang kulakukan pada mainannya yang lain.
Aku tidak habis pikir bagaimana aku bisa mempunyai seorang adik tak berguna seperti dia. Wajahnya yang datar dan pesakitan, membuatku jijik melihatnya. Tubuhnya yang kurus kecil dengan kepala yang besar dan mata melotot serta mulut melongo membuatnya terlihat seperti boneka jelangkung. Sama sekali tidak ada kemiripan dengan aku si gadis cantik incaran semua laki-laki tampan di sekolah. Tapi ayah dan ibu sangat menyayanginya, bahkan sering kali mereka lupa bahwa ada aku dirumah ini. Si idiot itu berhasil mencuri perhatian semua orang dirumah ini dan membuatku terlupakan. Aku sangat membencinya. Dan malam ini adalah kesempatanku untuk membuatnya menderita.
“Kakak mau masak mie instan, Abib mau ga? Biar sekalian kakak masakin” rayuku seraya mengulas senyum palsu agar terlihat seperti kakak yang baik.
“Aabiippp maaa...uuu” jawabnya terbata-terbata, lalu cengengesan sendiri.
Aku heran kenapa ayah dan ibu begitu menyayanginya. Ia hanya anak idiot yang bahkan bicara saja dia belepotan.
“Tapi janji ya nanti mie buatan kakak harus di makan sampai habis” kataku sambil tetap berakting menjadi kakak yang baik.
Si idiot itu terus mengangguk berkali-kali walaupun aku sudah berlalu meninggalkannya.
Aku segera menyiapkan mie instan yang selalu ditinggalkan ibuku didapur mengingat aku suka bangun tengah malam karena kelaparan. Dan kali ini aku akan memasaknya untuk si idiot yang sudah mencuri perhatian kedua orang tuaku. Aku akan membuatkan mie special untuknya. Mie spesial bertabur puluhan cabai merah yang mengerikan.
Setelah kurasa cukup, aku membawa mie buatanku dan menyodorkannya dengan penuh kasih sayang kepada si idiot itu.
“Ini mie nya… ingat ya harus dimakan sampai habis” kataku basi-basi.
Aku terus menatap wajahnya tidak sabar ingin melihat ekpresinya saat mie buatanku masuk kedalam mulutnya.
Suapan pertama pun meluncur masuk kedalam mulutnya dengan sempurna. Spontan, lidahnya menjulur keluar memuntahkan suapan pertamanya tadi bersama air liur yang membanjiri karpet mahal diruang tamuku.
Napasnya megap-megap menerima “kejutan” dariku. Aku makin jijik melihatnya.
Yes, Pesta dimulai..!!
Aktingku sebagai kakak yang baik harus berakhir disini. Sekarang saatnya balas dendam.
“Hehh..!! kenapa mie nya dimuntahin? Ayo makan mie nya sampai habis” Bentak ku dengan wajah paling galak yang belum pernah kuperlihatkan kepada siapapun.
“Mie nyaa pedass… Aabibbb eeeng…gaaa mauu” wajah si idiot memelas.
“Habisin mie nya atau kakak pukul pake ini??!” aku mengambil mobil-mobilannya dan mengambil ancang-ancang untuk menghantamkannya ke kepala si idiot ini.
Dia menangis ketakutan dan memohon padaku untuk tidak memukulnya.
Aku semakin menjadi-menjadi melihat dia memelas padaku. Aku membanting mobil-mobilannya hingga hancur berantrakan. Lalu kuraih sendok yang tergeletak diatas karpet dan kusuapi ia secara paksa sampai habis. Aku tidak peduli walaupun tangisannya mengaum menyesaki seluruh ruangan di rumahku. Bagiku si idiot ini hanya seonggok daging yang berusia lima tahun dan pantas untuk mendapatkan perlakuan lebih buruk dari ini. Dendamku terbalaskan malam ini. Aku sungguh tidak menyesal karena tidak bisa menonton konser band favoritku bersama teman-teman. Sekali lagi, aku puas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar