Sesederhana apapun cerita hidup yang kita alami, akan menjadi sebuah cerita menarik bagi orang lain apabila kita pandai mengolah kata saat menceritakannya.

#DerskripsiSetting Tantangan @KampusFIksi

Oleh : @Amad_Kocil


Randi bersama kedua adik perempuannya Airin dan Aurel, hanya bisa tertegun mendapati rumah masa kecil mereka yang kini tampak usang dan tak bertuan. Pohon beringin yang berdiri kokoh disamping rumah mereka menumpahkan daun-daunnya yang mulai menguning diatas genteng. Rumput-rumput liar berwarna hijau tua tumbuh semaunya bersama tumpukan sampah yang berserakan
dimana-dimana memenuhi halaman rumah tempat ia bermain bersama ayahnya dulu. Pagar besi disekeliling halaman rumah yang dulu
ia buat bersama ayahnya sudah tidak bisa lagi berdiri dengan sempurna. Hanya pagar besi itulah satu-satunya bagian dari rumah mereka yang dibuat dari hasil kerja sama antara Randi dan ayahnya.
”Kak Randi... rumah kita kak...” Aurel berkata lirih, nyaris tak terdengar. Senyum pahit terukir jelas dari bibirnya.
Randi masih tertegun, tidak tau apa yang harus ia katakan pada kedua adik perempuannya itu.
Mereka bertiga memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di luar kota setelah orang tua mereka meninggal. Mereka menjadi benalu dikeluarga pamannya selama hampir sepuluh tahun. Tapi mulai hari ini mereka akan mempunyai kehidupan baru di tempat yang lama. Di rumah usang yang mereka cintai.
Randi menemani Aurel melihat-lihat bekas kamarnya. Sedangkan Airin di biarkan sendiri mengelilingi ruang tamu yang kosong melompong.
”Kak, kamarku terasa sempit ya. Seperti mengecil gitu” kata Aurel. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya ia sedang berusaha untuk memulai bersahabat kembali dengan suasana didalam kamarnya itu.
”Bukan kamarnya yang mengecil adikku sayang, tapi kamunya yang sudah gede. Kamu kan sudah hampir sepuluh tahun meninggalkan kamar ini” Jawab Randi lembut dengan menyertakan kata ”sayang” padanya.
Aurel tidak merasakan perubahan yang begitu banyak dikamarnya kecuali ukurannya yang mengecil, atau lebih tepatnya badan Aurel lah yang berubah menjadi lebih besar. Selain itu, aroma kamar yang begitu apek terasa sangat kontras apabila dibandingkan dengan ketika ibu mereka masih ada. Saat itu, sang ibu lah yang merawat dan menjaga kamar mereka bertiga agar selalu terlihat rapi dan wangi.
Aurel mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Ruangan yang menyimpan banyak kenangan itu tak seindah waktu ditinggalkannya. Pesonanya kian terkubur oleh debu-debu halus yang melekat disetiap inchi dinding kamar tua itu. Internit dilangit-langit kamar yang hanya tinggal separo, cat dinding kamar berwarna merah muda sudah berganti warna menjadi gelap dan usang. Ditambah kasur kesukaanya yang bercorak winnie the pooh tergeletak mengenaskan diatas lantai, tanpa sprei dan robek disana-sini serta dihujani potongan internit yang terjun bebas dari atap kamar karena merapuh. Bisa dipastikan kasur tersebut sudah menjadi surganya para kecoa. Randi melihat ada kesedihan yang tersirat dimata adiknya itu, mengingat kasur tersebut merupakan hadiah dari ayahnya saat ia berulang tahun yang ke enam, tepatnya saat Aurel baru memasuki sekolah dasar. Dugaan Randi benar, mata Aurel berkaca-kaca. Lambat laun butiran air mata mengalir deras membasahi pipinya yang halus.
”Aku rindu ayah dan ibu Kak...” suara Aurel terbata-bata.
Randi mendekapnya dan membiarkannya terisak didalam pelukannya untuk beberapa saat.
Sementara itu Airin duduk tegak pojok ruang tamu tanpa memperdulikan bau apek yang menyesaki hidungnya. Kotoran cicak yang sudah mengering berserakan disekitar tempat ia duduk. Debu-debu yang berterbangan menggodanya untuk beralih tempat pun tidak dihiraukannya. Matanya terfokus pada coretan pensil berbentuk gambar tak karuan pada dinding yang ada dihadapannya. Coretan hasil keisengan tangannya waktu masih kecil. Airin mendekatkan wajahnya pada dinding tersebut berusaha mengingat bentuk gambar yang ia buat dengan tangannya beberapa tahun silam. Tapi ia tidak berhasil, bentuk coretannya benar-benar acak-cakan, ia hanya bisa mengingat coretan berbentuk tulisan yang berbunyi ”DUCK” bahasa inggris yang pertama ia hafal dari Randi yang artinya ”bebek”. Dibawah tulisan ”DUCK” ia menemukan tulisan lain yang berbunyi ”PRINCES”. Sebutan Randi untuk dirinya. Bibir Airin merekah perlahan, senyumnya melengkung indah sekali. Gigi putihnya tampak kontras dengan suasana gelap didalam ruangan itu. Membuatnya tetap terlihat cantik sebagai gadis remaja berusia belasan tahun. Ia juga ingat waktu sang ibu memarahinya karena hobi mengotori dinding dengan pensil.
Masa kecil yang penuh bahagia itu akan mereka ukir kembali disini, ditempat yang sama seperti dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar