Day 4: Tanpa Menyebutkan Namanya, Ceritakan Bagaimana Pertemuan Pertamamu Dengan Si Dia
Pertama kali membaca tema di atas, pikiran saya langsung bergerak mundur jauh ke belakang untuk mengumpulkan kembali cerita-cerita menarik yang pernah terjadi dan bisa saya tulis di sini. Setelah merenung cukup lama, pikiran saya pun berlabuh pada sebuah nama. Seseorang yang sampai saat ini masih menjadi kenangan terbaik sepanjang hidup saya. Sebuah nama yang menjadi satu-satunya alasan saya merantau ke Ibu Kota.
Suatu malam di akhir tahun 2005, di sebuah desa kecil di Bandung, saya diajak Kakak saya untuk menghadiri acara Tabligh Akbar di pesantren bernama Irtibatul Qulub. Satu-satunya pesantren di kampung itu yang diasuh dan didirikan oleh seorang mantan berandalan tersohor.
Selesai melaksanakan solat isya, acara dibuka oleh seorang MC perempuan yang mengenakan baju berwarna biru muda lengkap dengan kerudung hitam. Ia melenggang dengan sangat anggun menaiki tangga menuju ke atas panggung. Langkahnya begitu santun. Parasnya cantik sekali. Selama dia berdiri di atas panggung sambil bercuap-cuap menyampaikan daftar acara, mata saya tidak berkedip barang sedikit pun. Pandangan pertama saat itu, sukses membuat jantung saya ’dag dig dug jeger’ tidak keruan.
Selang beberapa hari kemudian, saya berpikir untuk mondok di pesantren tersebut. Bukan karena perempuan cantik yang tadi saya ceritakan di atas, sama sekali bukan. Keinginan ini murni datang dari hati nurani saya yang paling dalam. Karena saat itu saya baru menyelesaikan kuliah dan sulit mendapat pekerjaan. Dari pada nganggur, malu sama tetangga dan teman-teman yang sudah kerja, lebih baik mondok supaya ilmu agama saya bertambah. Betul tidak?
Sore itu, hari pertama di pondok, saya duduk sendiri di depan masjid sambil mendengarkan santri lain yang sedang bershalawat di dalam mesjid. Rombongan santriwati melewati saya sambil bercengkrama satu sama lain. Mereka lewat begitu saja seolah tidak melihat kebaradaan saya. Di belakang rombongan itu, seorang santriwati lainnya menyusul. Ia berjalan dengan anggun dengan kepala menunduk. Tangannya mendekap erat sebuah Al-Quran di dadanya.
"Assalamualaikum, A...," sapanya seraya mengangkat pandangan. Matanya jernih.
Saya menjawab salamnya dengan kikuk.
”Aa Santri baru ya?" tanyanya kemudian.
Lagi-lagi, saya menjawab dengan kikuk. Wajahnya tidak asing. Setelah saya ingat-ingat, perempuan ini adalah MC saat Tabligh Akbar beberapa waktu yang lalu.
"Masuk ke masjid atuh, A, gabung sama yang lain." Matanya melirik ke dalam masjid. Menunjuk santri lain yang sedang bershalawat.
"Jangan malu-malu, ya." Dia tersenyum lalu pamit dengan mengucap salam.
Oh, Tuhan.... Cantik Sekali, saya bergumam dalam hati.
Singkat cerita, di pertemuan kedua dan seterusnya, saya sudah terbiasa berhadapan dengan 'Bidadari Pesantren' ini. Sampai di sini, kami berteman sangat akrab. Belakangan saya tahu, dia adalah keponakan mantan berandalan tersohor, yang merupakan pengasuh sekaligus pendiri pesantren itu.
Hari berlalu, minggu bergulir, bulan berganti. Benih-benih cinta pun tumbuh tak terbendung. Melalui pemikiran yang matang serta diskusi yang panjang bersama kawan-kawan saya, saya akhirnya memutuskan untuk meminang gadis itu. Rencana dimulai dengan menghadiahkan sebuah kerudung kepadanya. Tapi... tiba-tiba negara api menyerang. Takdir mengubah segalanya.
Di bagian ini, tidak perlu saya ceritakan tentang apa yang terjadi. Pokoknya ada sebuah peristiwa mengharuskan saya untuk meninggalkan kampung halaman.
Malam terakhir ketika saya bertemu dengannya untuk berpamitan, dia mengenakan kerudung pemberian saya. Kerudung berwarna biru. Sejak saat itu, saya menamai dia sebagai Gadis Berkerudung Biru.
Jadi baper kan saya. Ah, sudahlah, tidak usah diteruskan. Pokoknya cerita ini tuh sad ending.
Dengan siapa pun dia melalui malam ini, semoga senantiasa bahagia. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar