Sesederhana apapun cerita hidup yang kita alami, akan menjadi sebuah cerita menarik bagi orang lain apabila kita pandai mengolah kata saat menceritakannya.

#KampusFiksi 10 Days Writing Challenge

Day 2: Sebutkan 3 Hal Yang Membuatmu Histeris

Sebagai kaum lelaki tulen, jarang sekali ada hal yang bisa membuat saya histeris. Sambil nulis ini, saya membayangkan kejadian-kejadian yang pernah membuat saya sebegitu senangnya sampai saya berteriak layaknya cewek-cewek ababil saat bertatap muka dengan artis idola. Menurut hasil penelusuran memori otak saya ke beberapa tahun belakang, banyak sekali kejadian menyenangkan yang harus saya syukuri. Tapi demi menjaga imej sebagai lelaki sejati, sebahagia apa pun, saya memilih untuk tetap bersikap cool. Perayaan yang saya lakukan hanya sebatas mengucap “Alhamdulillah….” Diiringi senyum tampan khas lelaki pujaan para wanita *dikeplak jamaah*

Akan saya sebutkan tiga hal yang—diam-diam—pernah membuat saya histeris, tapi histerisnya dalam hati. Cekidot!

1. Tanggal 7 April 2014, notif di ponsel saya menunjukkan ada sebuah email masuk. Di tengah kesibukan saya di kantor, saya membukanya sekilas. Ternyata itu adalah email dari Kampus FIksi yang menyatakan bahwa saya terpilih menjadi salah satu peserta Kampus Spesial yang akan dilaksanakan di Jogja. Tepat pada ulang kampus FIksi yang pertama. Gratis! Seketika saya ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk memberitahu semua orang tentang isi email tersebut.

2. Tanggal, 9 Desember 2015, saya mendapat kabar yang lebih dahsyat. Kabar baik yang saya tunggu selama satu bulan, akhirnya terjawab melaui notif di ponsel di tengah teriknya matahari. Email itu berisi pemberitahuan bahwa naskah yang saya kirim dinyatakan diterima dan akan diterbitkan dalam waktu dekat. Bayangkan, cita-cita yang sudah terpendam selama bertahun-tahun, dibumbui penantian yang cukup lama, akhirnya terwujud dengan semangat dan kerja keras. Sekali lagi, saya berteriak dalam hati. Berteriak sekeras-kerasnya seraya mengucap syukur. Bahagianya itu…. Ah sudahlah. Sulit saya terjemahkan dengan kata-kata.

3. Terakhir, saya ingin berandai-andai. Seandainya suatu hari nanti buku saya bisa dinikmati banyak orang dalam bentuk lain, katakanlah buku saya difilmkan, tidak peduli saya sedang berada di mana saat menerima kabar itu, tidak peduli saya sedang berhadapan dengan siapa, saya akan berteriak dengan seluruh kekuatan yang saya punya. Untuk hal yang satu ini, akan saya rayakan dengan meriah. Doakan saja, semoga terkabul ya, gaes! :D

Sekian dan terima kasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar