“Mesti banget ya ibu kost nagih uang kost-an di depan orang banyak? Baru aja telat lima hari. Huuh, bikin gue tengsin aja!” gerutuku dalam hati sambil melampiaskan kekesalanku pada remote tv yang kupencet-pencet tanpa ampun.
Tiga minggu yang lalu aku tidak lulus ujian salah satu mata kuliah dan terpaksa mengambil semester pendek demi bisa melanjutkan kuliahku ke semester berikutnya. Ironisnya, saat itu kondisi keuanganku sedang krisis.
cerewet itu akhirnya meletus dan memuntahkan “lahar panasnya” tepat di depan mukaku membuat ibu-ibu di sekitarnya menoleh padaku. Dan aku, melihat gerakan mereka begitu lambat persis seperti gerakan slow motion dalam film action. Aku mendadak merasa seperti orang bego bin tolol.
Aku meletakkan remote tv dengan malas kemudian merebahkan tubuhku pada kasur yang tergeletak mengenaskan di atas lantai, tanpa sprei, hanya gulungan selimut dan bantal buluk yang berserakan di atasnya. Hari ini aku ingin tidur pulas sampai sore, atau bahkan kalau bisa hingga minggu depan sampai ayah mengabariku bahwa ia telah mengirimiku uang.
Ahh, rencana tidur panjangku terganggu oleh suara hape yang berbunyi semaunya menyesaki kamar kostku. Segara ku jamah hape-ku dan kulihat nama Amel tertera di layar hape lalu ke tekan tombol hijau untuk menerima teleponnya.
“Halo, Windi…. Lagi ngapain lo?“
“Hai, Mel, gue lagi manjat genteng,” jawabku asal
“Percaya banget gue, lo kan keturunan tarzan. Gak ada pohon gentengpun jadi.”
“Sialan, lo… eh, Mel, lo kesini donk temenin gue,” pintakku manja.
Tanpa basi-basi lagi Amel langsung mengiyakan permintaanku. Amel adalah orang yang paling setia nemenin kalau aku lagi sendiri di kosan. Saat ini misalnya. Dia memang sahabatku yang paling baik dan paling kusayangi.
Tidak perlu menunggu waktu lama Amel sudah sampai di istanaku. Jarak rumahnya dengan tempatku kost-ku memang tidak terlalu jauh. Hanya berjarak kurang lebih dua puluh rumah. Maksudku tidak terlalu jauh kalau ditempuh dengan sepeda motor, bukan dengan jalan kaki. Hehe.
Ia hanya melongo mendapati kondisiku bersama kasur dan bantal busuk yang hanya terbungukus selimut bau apek.
“Ya ampun, Win… tumben apartemen lo kayak kapal pecah. Kenapa, Lo?” tanyanya dengan memplesetkan kosanku dengan kata “apartemen”. Ekspresi wajahnya tampak prihatin padaku.
“Gak usah lebay deh, Gue gak kenapa-kenapa. Cuma lagi kere aja jadi males ngapa-ngapain. Ditambah lagi kesel sama nenek lampir pemilik instana ini. Masa gue ditagih uang kost di depan orang banyak. Kan jadi malu gue. Cuma telat bayar lima hari doang udah kayak telat tiga bulan,” kesalku tumpah seketika saat ada Amel di depanku.
“Telat tiga bulan? Bunting donk hehe…” Riana menggodaku.
Ia berusaha membuatku tertawa tapi tidak berhasil.
“Liat aja nanti kalo bokap gue ngirim duit bakal gue bayar langsung tuh hutang kosan gue. Abis itu gue bakal katain dia ‘gorila betina’!” aku melanjutkan kekesalanku.
“Abis ngatain gitu langsung cabut dan pindah kosan hahaha…” Riana kembali memancing tawaku. Kali ini ia berhasil, tawaku pun tak terbendung lagi. Kami berdua tertawa bersama di dalam kamar ini, kamar kost sempit dan bau apek namun seperti istana megah bagi kami berdua.
“Ya udah, gue traktir mie ayam hidup dan mati, yuk. Dari pada diem mulu di sini. Emang lo mau engga ada cowo yang naksir gara-gara muka lo ketularan buluk sama kamar ini?”
“Mau bingiitss… Elo, Mel, tau aja kalo gue lagi laper hihi…,” kataku sambil menyunggingkan senyum paling manis untuk sahabatku ini.
Mie ayam adalah makanan pavorit kami berdua sejak pertama kali kami menginjakan kaki di kampus. Kami menyebutnya “Mie Ayam Hidup dan Mati”. Mengingat ini makanan wajib kami berdua setiap hari, bahkan saat kami sedang libur ngampus. Rasanya tidak berlebihan kalau kami menamainya demikian. Dan satu lagi, Mie Ayam Hidup dan Mati ini merupakan obat penawar bagiku dan Amel dari segala macam kegalauan yang mendera. Saat ini misalnya, Amel tahu betul apa yang aku butuhkan untuk mengobatiku hari burukku. Hanya Mie ini yang mampu menyelamatkan kami berdua dari kegalauan. Yeah… kedengarannya memang menjijikan tapi, whateverlah…
Tulisan ini merupakan tantangan praktik nulis #KampusFiksi Spesial yang diadakan di Jogja pada tanggal 27 April 2014.
Bertema :
Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mengatasi badmood/hari buruk?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar