Sesederhana apapun cerita hidup yang kita alami, akan menjadi sebuah cerita menarik bagi orang lain apabila kita pandai mengolah kata saat menceritakannya.

#KalimatPertama Tantangan @KampusFiksi

Oleh : @Amad_Kocil


Rumah yang kucari ini lebih tepat disebut kastil. Tak ada rumah lain di sekitarnya. Ya, hanya sendiri berdiri dalam sepi. Pohon beringin yang berdiri kokoh di samping kastil ini semakin menegaskan keberadaannya sebagai bangunan yang angker. Aku sama sekali tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
”Apa tempat tinggal semua dukun harus seseram ini?” tanyaku dalam hati.
Langit semakin menguning pertanda malam akan segera tiba. Kakiku masih mematung di depan pintu bangunan ini. Ada sedikit keraguan yang menyusup kedalam benakku. Haruskah aku melangkah sejauh ini demi Nia? Mengorbankan nilai-nilai akidah yang diajarkan orang tuaku sejak kecil. Seandainya mereka mengetahuinya, dapat dipastikan seutas tali tambang akan menantiku di rumah dan siap untuk menjerat leherku.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata ibu ketika aku masih sekolah. Saat itu aku berceloteh tentang betapa sulitnya menempuh ujian nasional, tanpa sengaja mulutku bergumam, mengutarakan niat untuk minta bantuan dukun supaya lulus ujian dengan mudah.
”Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkanmu pergi ke dukun. Sekali saja kamu melakukannya, ibu tidak segan-segan menggantungmu di tengah rumah.” Begitu kata ibuku waktu itu, kata-katanya mendapat anggukan tanda setuju dari ayahku.
Namun ini bukan lagi tentang ujian sekolah. Aku berada di sini demi Nia, gadis kampus yang sudah lama mencuri hatiku. Sudah berbagai cara aku lakukan untuk mendapatkan hatinya. Namun selalu nihil. Gadis berjilbab itu terlalu sulit untuk kutaklukan. Prinsipnya sungguh tak bisa kudobrak sedikitpun. Sejenak pikiranku melayang lalu hinggap pada sepotong ingatan tentang percakapan singkatku dengan Nia minggu lalu.
”Egi, aku tahu kamu pria yang baik. Tapi bagiku, hubungan lawan jenis hanya ada tiga macam. Pertama kakak-beradik, kedua teman, ketiga suami-istri. Tidak ada yang namanya pacaran. Kalau kamu serius, setelah kita lulus kuliah kamu boleh melamarku untuk jadi istrimu. Sementara ini, matangkan dirimu untuk menjadi pria yang lebih baik lagi karena di luar sana ada laki-laki lain yang juga menantiku.” Untuk kesekian kalinya Nia menolakku dengan sangat halus saat aku mengutarakan keinginan untuk menjadi pacarnya.
Lidahku kelu, seperti ada segumpal daging mentah yang menyumpal mulutku, bibirku terkunci rapat. Aku tidak berdaya dibuatnya, gadis itu benar-benar telah melumpuhkanku.
Entah sudah berapa lama aku berusaha keras bertarung mati-matian melawan hati nurani yang sedari tadi melawan niatku, akhirnya nafsuku berhasil membungkamnya. Nafsuku untuk mendapatkan Nia terlalu besar hingga memalingkanku dari hati nurani.
Aku meraih gagang besi yang tergantung pada pintu bercat usang itu lalu mengetukannya berkali-kali. Tidak berapa lama dari dalam sana terdengar suara langkah kaki mendekat. Sesosok pria tua menyambutku ketika pintu terbuka. Penampilannya tampak biasa, sama sekali tidak memperlihatkan dirinya sebagai dukun sakti seperti yang pernah kudengar.
“Masuklah!” katanya seraya membalikan badan kemudian berlalu dari hadapanku. Sikapnya menunjukan seolah ia tidak peduli aku mengikutinya atau tidak. Dia berlalu begitu saja.
Aku melangkah pelan mengikutinya. Ia mempersilakanku duduk pada kursi kayu di ruang tamu. Keadaan di dalam bangunan itu ternyata tidak seseram yang kubayangkan. Semuanya tampak biasa, sama dengan rumah-rumah pada umumnya. Tidak ada aroma mistik sama sekali.

”Minumlah.” ia meletakan segelas air putih di atas meja, ”apa yang membawamu datang ke sini, Anak muda?” tanyanya kemudian.
Lagi-lagi sebersit keraguan merasuki pikiranku. Nuraniku seolah tidak rela akan keberadaanku di sini. Ada dorongan kuat dalam hatiku untuk segera keluar lalu pergi meninggalkan pria tua ini dan tidak pernah kembali lagi. Tapi nafsuku kembali menghalau, aku menepis keraguan itu. Demi Nia.
”Saya sedang jatuh cinta, Mbah. Apa Mbah bisa membantu saya?”
Pria tua itu mendengus, menyunggingkan senyum sinis.
”Sudah kuduga, kamu sama dengan semua orang yang pernah datang kesini. Mereka menganggapku sebagai dewa penolong untuk menyelesaikan masalah mereka,” ia berhenti sejenak, meneguk sedikit air putih dari gelas yang dipegangnya.
”Tapi mereka salah,” lanjutnya, ”aku dan rumah ini bukan tempat yang tepat untuk masalah mereka, begitu juga dengan masalahmu. Aku sama dengan mereka, denganmu, dengan semua orang.”
”Maksudnya, Mbah?” aku tidak mengerti kata-kata pria tua ini.
Apa dia sengaja bicara berbelit-belit supaya aku membayarnya dengan harga mahal? Aku bersiap merogoh uang berlembar-lembar dari saku celanaku untuk meyakinkannya bahwa aku bisa membayarnya dengan harga mahal.
”Kamu dibodohi oleh mereka, Anak muda. Aku bukan dukun yang kau cari.”
**********
Aku duduk tertegun di pojok kamarku. Mengutuk diriku sendiri atas apa yang telah kulakukan beberapa hari yang lalu. Tidak seharusnya aku membuang waktu dengan bersusah payah mendatangi seorang dukun. Nyatanya, aku tidak menghasilkan apa-apa, ia hanya orang biasa tinggal di kastil terpencil.
Aku merasa kerdil mendapati diriku sebodoh itu. Hanya demi cinta aku hampir terjerembab ke jurang hitam, hanya demi cinta aku hampir saja mengkhianati akidah, menghianati kedua orang tuaku. Seharusnya aku percaya, Jika Tuhan memang menakdirkanku berjodoh dengan Nia, laki-laki manapun tidak akan sanggup merebutnya dariku, begitupun sebaliknya.

Tulisan ini saya tujukan untuk memenuhi tantangan #KampusFiksi bertema #KalimatPertama.
#KalimatPertama saya ambil dari buku ”PENJAJA CERITA CINTA” karya Bpk. Edi Akhiles yang diterbitkan oleh DivaPress.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar