Sesederhana apapun cerita hidup yang kita alami, akan menjadi sebuah cerita menarik bagi orang lain apabila kita pandai mengolah kata saat menceritakannya.

Badut Di Taman Alam

Oleh : @Amad_Kocil

“Boneka badut itu lucu ya, Nya? Dia bisa menghibur semua pengunjung di sini, termasuk gue,” celoteh Indri.

Anya hanya tersenyum sinis tanpa mengalihkan matanya, sebatang pulpen yang terselip di jarinya menggores tajam di atas buku di tangannya. Perasaannya berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan Indri barusan.

”Lo masih benci sama badut itu, Nya?” tanya Indri, seolah tahu arti dari senyum Anya, ”sudah lewat satu minggu, harusnya lo bisa melupakan kejadian itu.”

Anya masih bergeming, tak acuh terhadap
petuah sahabatnya. Ia tetap fokus mencatat laporan hasil interview-nya dengan bule yang dijumpainya beberapa saat lalu.

”Gue yakin dia nggak sengaja ngelakuin itu sama lo,” Indri diam sesaat, matanya tertarik untuk memperhatikan anak-anak yang berebutan ingin berfoto bersama badut yang sedang dibicarakannya, ”lagian orang di dalam badut itu belum tentu sama dengan badut seminggu yang lalu.”

”Dari mana lo tahu?” Anya akhirnya bersuara.

”Lo tuh ya, itu kan pekerjaan freelance, Nya, siapapun bisa jadi badut. Lo juga bisa kalau mau heehe,” gurau Indri, berusaha memancing tawa Anya. Sayang usahanya gagal, sahabatnya itu tak tertarik sedikitpun dengan gurauan Indri.

Peristiwa itu terlalu membekas di hati Anya untuk dilupakan begitu saja. Karena badut itu, Anya menjadi bahan tertawaan teman-teman sekelasnya sampai hari ini. Kalau bukan karena tugas dari Pak Mujiono –guru bahasa inggrisnya- untuk melakukan praktek speaking, Anya tidak sudi lagi menginjakan kaki di taman ini. Tapi hanya di taman ini Anya bisa menjumpai bule untuk merampungkan tugasnya tersebut.

**********

Seminggu sebelumnya.

Anya melihat gelagat yang tidak biasa dari sahabatnya. Indri, yang dikenal Anya merupakan pribadi santai dan suka berceloteh, namun hari ini ia mendapati wajah manis sahabatnya itu tampak murung selama jam pelajaran dimulai.

Bel tanda istirahat telah berbunyi. Anya dan Indri bergegas menuju kantin yang terletak tidak jauh dari kelasnya. Seperti biasa, semangkuk mie rebus dan segelas teh manis hangat selalu menjadi santapan favorit mereka di sekolah.

”Ndri, lo kenapa? Hari ini keliatan murung. Nyokap lo sakit lagi?” tanya Anya di sela suapan mie rebusnya.

”Ya, biasalah, Nya. Lo kan tahu, nyokap gue sekarang jadi sering sakit. Kayaknya gue harus cari duit buat biaya berobat nyokap.” Indri menyunggingkan seulas senyum, senyum yang dipaksakan untuk menunjukan bahwa dia baik-baik saja di depan Anya.

”Seandainya gue bisa bantu, Ndri...,” ujar Anya dengan wajah penuh sesal.

”Nggak usah, Nya, gue yakin pasti bisa cari duit sendiri.”

Anya memberikan senyum tulus pada sahabatnya itu. Ia tahu betul bahwa Indri bukan tipe orang yang bisa dengan mudah menerima belas kasihan dari siapapun, tanpa kecuali.

”Eh, Ndri, gue denger anak-anak pada mau ke Taman Alam hari minggu besok. Ikut, yuk,” ajak Anya. Ia berharap bisa menghibur sahabatya dari kemurungan, walaupun hanya sedikit.

Indri menggeleng tanda ia menolak. Dari raut mukanya, Indri tampak berat untuk menolak ajakan sahabatnya itu.

**********

Indri meninggalkan rumah pagi-pagi sekali. Mengingat ini hari pertamanya kerja, ia melangkah keluar rumah dengan semangat tanpa mengetahui pekerjaan apa yang akan dilakukannya hari ini. Orang yang menerimanya kerja hanya memintanya datang ke Taman Alam tepat pukul delapan pagi. Tanpa pikir panjang Indri langsung menyetujuinya. Yang ia tahu adalah pekerjaan freelance yang akan dijalaninya itu cukup membantu untuk biaya berobat ibunya.

Sesampainya di Taman Alam, Indri disodori sebuah kostum badut berbentuk tikus oleh orang yang ditemuinya dua hari yang lalu. Ya, pekerjaan yang akan dilakukannya adalah menjadi badut penghibur anak-anak. Tanpa keberatan sedikitpun, Indri langsung menerimanya dengan senang hati.

Sepanjang hari itu Indri disibukkan oleh para pegunjung taman yang sebagian besar dari mereka adalah anak-anak.

Pada saat hari menjelang siang, ia melihat rombongan remaja sudah yang tidak asing lagi baginya. Salah satu dari rombongan itu ada seorang gadis cantik yang tidak kalah antusias dengan anak-anak kecil lainnya. Ia menggunakan kaus putih dirangkap rompi merah muda dengan rok pendek ala girlband JKT48. Ia meloncat-loncat sambil mangacungkan telunjuk untuk mendapat giliran berfoto dengan Indri yang berkostum badut. Melihat tingkah si gadis, Indri menghampirinya dengan meloncat-loncat mengikuti gerakan si gadis tersebut.

Tanpa diduga, tepat ketika Indri sampai di hadapan si gadis, kakinya beradu dengan seorang anak kecil yang melintas secara tiba-tiba. Ia gontai, tidak dapat mengendalikan beban tubuhnya yang berat karena kostum badut yang kenakannya. Akibatnya, Indri terhuyung menabrak si gadis hingga ia tersungkur, jatuh tergeletak dengan posisi kedua pahanya mengangkang. Sontak, si gadis  menjadi pusat perhatian para pengunjung yang ada si sana. Mata mereka tertuju ada secarik kain putih yang terlihat jelas di dalam rok pendek yang dikenakan si gadis.

Si gadis terduduk di taman dengan terisak menahan malu. Apa yang dialaminya barusan sungguh di luar dugaan. Indri yang bersembunyi di balik kostum badutnya, mendapat umpatan kasar dari si gadis di sela isakan tangisnya.

**********

Sudah tiga puluh menit berlalu, Anya masih berkutat dengan laporan hasil interview-nya. Pohon lengkeng yang berdiri tegak di samping Anya melepaskan beberapa lembar daunnya yang sudah menguning, melayang dengan anggun dan jatuh di atas pahanya yang terbungkus rok pendek berwarna abu-abu khas siswi SMA.

”Nya, Gue mau jujur sesuatu,” kata Indri tiba-tiba.

Anya menolehkan matanya kepada Indri. 
”Mau Jujur apa lo?” tanyanya.

Indri mengambil jeda sejenak mengumpulkan keberanian. Ia tahu betul karakter Anya yang tidak akan mudah memaafkan seseorang yang dibencinya.

”Emmn... gue minta maaf, Nya, soal kejadian minggu lalu. Gue udah bikin lo malu di depan orang banyak,” Indri mengambil jeda lagi, memilih kata-kata yang tepat, ” gue nggak sengaja nabrak lo.”

”Maksud lo?”

”Badut itu gue, Nya. Waktu itu gue dapat tawaran untuk jadi badut. Karena gue pikir bayarannya lumayan untuk nambahin biaya berobat nyokap, gue menerima tawaran itu tanpa kasih tahu lo.” Suara Indri berat, jelas sekali ada beban besar yang mengganjal di hatinya.

Anya terpaku menatap sahabatnya. Wajahnya kaku, lidahnya kelu. Tidak tahu harus berkata apa. Indri benar-benar telah memberikannya ’surprise’ yang tidak pernah ia duga. Badut yang mempermalukannya, yang sangat dibencinya setengah mati, yang telah diumpatnya habis-habisan, ternyata sahabatnya sendiri.

Wajah Anya meredup bersamaan dengan semilir angin yang menerpa wajahnya. Rasa benci yang bergejolak dalam hatinya bercampur aduk dengan simpati terhadap Indri yang begitu gigihnya mencari uang demi biaya pengobatan ibunya. Di samping itu, keberanian Indri untuk berkata jujur padanya turut serta melemahkan hatinya. Anya luluh seketika.

Tulisan ini ditujukan untuk memenuhi tantangan @KampusFiksi pada tanggal 1 Juni 2014 bertema #KalimatPertama.
#KalimatPertama diambil dari novel Dear Hara karya Rara Aywara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar