Sesederhana apapun cerita hidup yang kita alami, akan menjadi sebuah cerita menarik bagi orang lain apabila kita pandai mengolah kata saat menceritakannya.

Tujuh Senja


Oleh: @Amad_Kocil


Dua jam telah berlalu sejak kuhempaskan tubuhku di atas pasir ini. Di sebuah pantai tempat di mana seharusnya dia datang menemuiku, seperti yang dijanjikannya minggu lalu. Entah berapa lama lagi aku mampu bertahan duduk di sini. Menunggu pria yang pernah membawaku ke puncak kebahagiaan tertinggi, lalu melemparku ke jurang penderitaan paling dalam. Tapi percaya atau tidak, sampai detik ini, aku tetap mencintainya. Tidak peduli dengan apa yang pernah dia lakukan padaku sebelum hari ini.

**********

Pagi ini aku bangun kesiangan. Terpaksa mengantre lebih lama di halte busway karena semakin siang penumpang akan semakin membludak. Berhubung aku malas berdesak-berdesakan, jadi aku memilih untuk bersabar menunggu penumpang sepi.
“Hai, Nad.” Suara itu tiba-tiba menyapaku di tengah hiruk pikuk penumpang yang berebutan menempati barisan paling depan.
Seorang laki-laki berambut ikal dan berwajah putih bersih berdiri di sampingku dengan menyunggingkan seulas senyum. Laki-laki yang kuharap tidak akan pernah hadir lagi dalam hidupku.
“Lama sekali kita tidak bertemu. Kamu tidak berubah, tetap cantik seperti dulu.” Kata-katanya begitu tenang. Tidak kudapati sedikitpun rasa bersalah, sesal, atau semacamnya. Seolah lupa bahwa dia pernah membuat duniaku seperti binasa. Hancur tak tersisa.
Kubuang jauh-jauh pandanganku darinya. Memandang wajahnya terlalu lama hanya akan mambawaku pada memori masa lalu yang menyakitkan.
“Tadi aku melihatmu di seberang jalan. Tidak ada salahnya kan kalau aku mengikutimu?”
Tanpa mengalihkan pandangan aku menjawab pertanyaannya dengan mengangkat kedua bahuku, yang berarti bahwa aku tidak peduli dengan hal itu.
“Aku hanya ingin minta maaf, Nad.” Ucapannya kali ini terdengar serius. “Aku tahu...,”
Sorry, Ndre, aku buru-buru,” kataku cepat memotong ucapannya. “Seandainya kata-kata itu kamu ucapkan setahun yang lalu, mungkin situasinya akan berbeda. Tapi sekarang aku sudah tidak membutuhkannya. Seperti aku tidak membutuhkan kehadiranmu lagi.”
Kupercepat langkahku tanpa mempedulikannya, membelah secara paksa kerumunan orang yang sedang antre menunggu busway, hingga ada beberapa penumpang yang nyaris jatuh kudorong demi menghilangkan diri dari hadapan Andre. Tidak peduli dengan teriakan orang-orang yang merutukiku.
Dengan perjuangan yang lumayan berat akhirnya aku berhasil masuk ke dalam busway. Situasi yang padat dan berdesakan memaksaku untuk berdiri gelantungan mengahadap kaca jendela. Saat busway melaju aku dapat melihat Andre di tempat tadi dia menghampiriku. Dia manatapku dengan mata  sendu, wajahnya redup seperti dipenuhi rasa sesal. Begitu kontras dengan ekspresi yang ia tunjukkan sebelum aku meninggalkannya.
Kenapa baru sekarang, Ndre? Kenapa...? hampir satu tahun aku menunggumu mengucapkan kata maaf. Kau tahu? Saat kau pergi, aku masih menyimpan cinta yang teramat besar melebihi kebencianku padamu. Setahun telah berlalu, luka itu semakin dalam bagaikan paku yang menancap pada dinding beton hingga berkarat. Terus menyiksa dan meracuniku tanpa jeda.


**********

Jarum jam menunjukan pukul setengah lima sore. Jamnya di mana kebanyakan para karyawan mulai melonggarkan semangat kerjanya dan bersiap untuk pulang. Kantor tempatku bekerja memang tidak terlalu memberi perhatian lebih terhadap jam kerja, dengan syarat tidak ada pekerjaan yang molor dari deadline.
Aku baru selesai menyeduh kopi di pantry saat Mas Supri, salah satu office boy di kantorku, menghampiriku dengan membawa seikat bunga mawar di tangannya lalu memberikannya padaku.
“Mbak, ini ada titipan buat Mbak.”
“Dari siapa, Mas?” Tanyaku heran sambil meletakkan gelas kopi di atas meja.
“Saya tidak tahu, Mbak. Itu orangnya ada di depan. Sepertinya dia nungguin Mbak.”
Tujuh tangkai bunga mawar merah kesukaanku, diikat pita berwarna senada plus wanginya yang khas. Pada bagian atasnya terselip selembar kertas berwarna putih. Aku tahu bunga ini dari siapa. Tidak salah lagi.

Dear Nadia...
Semoga bunga mawar ini masih menjadi bunga kesukaanmu.
Seperti kamu yang masih menjadi wanita yang paling kucintai sejak dulu.”
-Andre-

Wanita yang paling kucintai sejak dulu? Seulas senyum kecut tergambar begitu saja di bibirku. Aku memang sangat menyukai bunga mawar. Tapi bukan berarti bisa dia gunakan untuk merayuku dan melupakan kesalahannya begitu saja. Kuletakkan bunga itu di atas meja tanpa mempedulikannya lagi. Yang kubutuhkan saat ini adalah segelas kopi hangat untuk menghilangkan penat setelah seharian berjibaku dengan segudang kerjaan yang menguras tenagaku.
Dari mana Andre tahu tempat kerjaku? Apa selama ini dia membuntutiku? Ada keinginan yang kuat dalam diriku untuk menghampirinya dan menyuruhnya pergi. Aku ingin mengatakan padanya untuk tidak menggangguku lagi.
Pukul lima lewat lima menit. Aku bergegas meninggalkan kantor. Kuhampiri Andre dengan cepat sebelum dia menghampiriku terlebih dulu. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang bergejolak di hatiku. Semakin mendekatinya, jantungku semakin berdetak kencang. Sesuatu yang selama ini berusaha kukubur dalam-dalam seolah kembali mencuat. Aku merasakan sesuatu yang sama seperti dulu. Perasaan ini terlalu kuat untuk kuabaikan.
Aku berdiri tepat di depannya. Mulutku tiba-tiba terasa kaku. Kata-kata cacian yang sudah kusiapkan sejak tadi seolah tersangkut di tenggorokanku. Aku tidak sanggup menyuruhnya pergi.
“Hai, Nad. Kamu suka bunganya? Sebelumnya aku minta maaf kalau kamu tidak suka dengan kedatanganku.” Untuk pertama kalinya selama aku mengenal Andre, ia terlihat begitu kikuk di hadapanku.
“Ya, terima kasih...,” jawabku singkat. Aku menatap matanya sesaat. Ada sesuatu yang tidak biasa di sana yang tanpa sadar membuatku iba melihatnya.
“Syukurlah kalau kamu suka. Aku sengaja ke sini karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Sama seperti dulu, rasa benciku tidak pernah lebih besar dari rasa cintaku yang diam-diam mulai kembali merambat, menjalar ke setiap sudut ruang kosong hatiku. Mengingatkanku akan masa-masa bahagia bersamanya setahun yang lalu.

Andre mengajakku ke sebuah kafe. Setelah memesan dua gelas minuman, aku langsung mengingatkannya akan tujuannya  mengajakku ke sini.
“Aku mau minta maaf, Nad. Aku tahu aku salah, meninggalkanmu tanpa kabar. Saat itu aku ingin menjelaskannya padamu, tapi aku tidak bisa....”
“Sudahlah, Ndre, aku sudah tidak tertarik lagi dengan masalah ini. Apapun alasanmu, sekarang tidak penting lagi bagiku.” Aku sengaja membuatnya semakin merasa bersalah. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin mengetahui alasan kenapa dulu Andre meninggalkanku.
Kehilangan seseorang yang sangat kucintai memang menyakitkan, tapi akan lebih sakit kalau kehilangan tanpa mengetahui sebabnya.
Please, Nad, kasih aku kesempatan. Orang tuaku yang memaksa. Mereka menjodohkanku dengan gadis lain, tapi aku menolaknya. Itu yang membuatku pergi. Aku kabur dari rumah sebagai bentuk penolakan atas perjodohan itu. Itu semua kulakukan demi kamu, Nad.”
“Oh ya?” Aku melayangkan tatapan sinis.
Sementara itu pelayan datang membawa dua gelas lemon tea yang dipesan Andre dan meletakkannya di atas meja.
“Kamu pikir aku percaya?” Tanyaku lagi.
“Kasih aku kesempatan untuk membuktikannya, Nad, please....”
“Membuktikan dengan cara apa?”
“Aku akan menikahimu!”
Seketika semuanya terasa hening. Kipas angin di atas kepalaku, orang-orang yang bercengkrama di sekeliling kami, para pelayan yang beralu lalang membawa pesanan pengunjung cafe, semuanya, seperti melambat, seperti disetel dalam mode slowmotion. Aku terperangah dengan apa yang diucapkan Andre barusan. Laki-laki yang dulu kuimpikan untuk jadi suamiku, kini dia mengatakan akan menikahiku? Tidak dapat kupungkiri, aku sangat menantikan hal ini jauh sebelum Andre meninggalkanku. Tapi sekarang, setelah apa yang terjadi, aku sudah melupakannya. Tidak! Aku belum melupakannya. Aku masih memimpikan hal itu. Aku masih menginginkan pria di hadapanku ini menjadi pendamping hidupku kelak.
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu?” tanyaku ragu.
Andre menggenggam tanganku. Jemarinya menyusup lembut di sela jari-jariku. Ia menatapaku penuh keyakinan. “Besok aku akan ke Bandung menemui mereka. Aku akan menemuimu lagi minggu depan. Di tempat biasa. Aku harap kamu bersedia menungguku di sana,” katanya sambil tersenyum.
Entah setan apa yang merasukiku. Senyum yang melintang di bibirnya, senyum yang walaupun aku tahu sering diumbarnya ke semua wanita, memaksaku jatuh terperosok ke dalam pesonanya untuk kali kedua. Senyum tulus dan sapaan lembutnya, seolah menyuguhkan penawar rasa sakit, dari luka yang menganga akibat teriris pilu di penghujung kisah lama. Setahun yang lalu. Bersamanya.
Aku tahu ini gila. Terlalu cepat memang, menjatuhkan hati kepada pria yang sampai detik ini, tidak bisa kuterka apa yang akan disuguhkannya untukku. Tawa, atau luka? Tulus, atau dusta? Tapi paling tidak aku patut bersyukur, karena ini artinya, semesta telah mengizinkanku untuk kembali mencintai.

**********

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Penantianku sudah melewati senja ke tujuh sejak pertemuan di kafe itu. Menikah dengan pria yang dicintai, bukankah itu impian semua wanita? Aku yakin Andre tidak akan mengingkari janjinya. Saat dia mengatakan akan menikahiku, binar di matanya tampak merajuk. Aku melihat ketulusan di matanya, penyesalan dan rasa bersalah yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Tanpa terasa, dua jam sudah aku duduk sendirian di pantai ini. Menyaksikan langit yang semakin menguning, pertanda bahwa senja sebentar lagi akan menghilang, bersamaan degan tenggelamnya matahari. Harus dengan cara apa lagi aku meyakinkan diriku bahwa Andre tidak akan ingkar janji? Harus berapa lama lagi aku menunggunnya? Sementara adzan maghrib mulai lantang berkumandang di sekitarku. Menyadarkanku bahwa di senja ketujuh ini aku kembali ditinggalkannya. 
Lembaran angin yang tak henti-hentinya menyapu wajahku, debur ombak yang sesekali menjulurkan air laut ke tepian pantai, seperti menertawakanku tanpa ampun. Si gadis bodoh yang sudah dua kali diperdaya oleh cinta.

**********

5 komentar:

  1. Holaa Kak Acillll......
    Aku mau komenn...

    Aku suka ceritanya. Tapi bener kata yg lain, endingny kurang jleb...

    Kurang nganu gtu Kak. Cba dibikin lebih dramatis.. ga cm brakhir dg si cewe nunggu doang... *sok paham. Hahah

    Tpi aku suka. Overall bagus Kak...
    Cemunguuddd broohhh

    BalasHapus
  2. Iya, Cha. Makasih...
    Sebenrnya aku juga bingung endngnya mau kayak gimana hehe...

    Next time, akan lebib baik. Insya Alloh. :)

    BalasHapus
  3. halo kak kocil, maaf karena baru komen u_______u

    ceritanya nyesek <///3

    terus penggambaran karakter andre di sudut pandangnya nadia udah lumayan bagus. aku jadi ikutan gedek sama andre coba (....) /wei teruus karakternya nadia kegambar kok! :"3 sejauh ini nggak liat typo tapi gak tau juga takutnya mataku siwer kak maapkan (....)

    itu aja ya kak, maaf kalo gak berkenan u_____u keep writing! (9 ' ')9

    BalasHapus
  4. YAH ADA KOMEN YANG KEPOTONG ="))

    sebenernya udah lumayan alurnya, cuma yang scene akhir itu kecepetan. sayang loh, padahal kalo temponya dilambetin scene terakhir itu bisa buat pembaca luluh lantak ;_____; itu aja ya kak orz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini Nebeh, ya?
      Makasih ya, Beh, atas komennya. Bakal jadi catatan di cerpen selanjutnya biar lebih kece badai #halah :D

      Hapus