Sesederhana apapun cerita hidup yang kita alami, akan menjadi sebuah cerita menarik bagi orang lain apabila kita pandai mengolah kata saat menceritakannya.

Gadis Berkerudung Biru

Oleh: @Amad_Kocil


Sore ini, entah untuk keberapa kalinya aku rela membuat diriku terlihat bodoh dengan duduk sendirian di lobi kampus. Mataku tak henti-hentinya menyelidik di balik punggung mahasiswa lain yang berlalu lalang dari ujung lobi ke ujung lainnya. Aku menunggu pemillik wajah cantik itu keluar dari balik pintu kelas di ujung lobi. Seorang mahasiswi jurusan akuntansi berwajah manis yang selalu memakai pin bergambar winnie the pooh pada tepian jilbabnya, sudah lama sekali aku menyukainya. Gadis itu bernama Nia.
Hampir tiga puluh menit berlalu, akhirnya wajah Nia menyembul di antara para mahasiswi yang menyembur dengan cepat keluar dari kelas.
Hari ini Nia memakai kerudung berwarna biru, berhiaskan manik-manik kecil berkilauan di bagian atas kepalanya. Ia juga mengenakan baju berwarna senada pada tubuh rampingnya. Bunyi gemerincing dari gantungan tasnya terdengar di sela-sela langkahnya saat ia melenggang dengan anggun ke arahku. Dan seperti biasa, pin bergambar winnie the pooh selalu lekat menempel pada tepian jilbabnya.
“Hai, Nia,” sapaku, tidak lupa aku menyunggingkan seulas senyum ramah padanya.
“Hai, Egi.” Nia berhenti tepat di depanku, bibirnya melengkung membentuk seulas senyum manis, “Nungguin aku lagi?” tanyanya kemudian.
“Ya iyalah, seperti biasa hehe...”
“Kamu tuh, ya, nggak ada bosennya.” Nia menggeleng pelan.
“Kali ini aja, Ni, kamu mau ya pulang bareng sama aku,” kataku setengah memohon.
“Nggak mau, ah. Aku mau pulang sendiri.”
“Nia, please....
Dihh.... lebay banget sih! Aku nggak mau. Lagian kalau dihitung-hitung, aku jadi perempuan keberapa yang duduk di jok belakang motormu? Ke sepuluh? Dua puluh? Atau ke seratus, hah?” kata Nia dengan nada bercanda. Ia pura-pura memasang wajah jutek padaku.
“Apaan sih, Ni? Nggak segitunya keless, kamu tuh yang lebay.” Aku membalas candanya.
“Jadi gimana nih? Kamu mau ‘kan aku antar pulang?” Aku kembali ke topik.
No no no...,” katanya sambil menggeleng.
Ah, bahuku langsung meleleh. Untuk kesekian kalinya aku gagal lagi. Lemas rasanya badanku.
 “Temenin sampai gerbang depan aja, yuk,” katanya kemudian. Nia nyengir kuda, menunjukan deretan gigi kelincinya dengan percaya diri. Cantik sekali.
Sontak, kedua sudut bibirku tertarik dengan sendirinya membentuk sebuah senyum lebar.
“Ayuk..!” jawabku mantap.
Langit sore di luar sana tampak cerah di mataku Begitupun dengan matahari. Cahayanya melembut ketika kami berjalan meninggalkan kampus, selembut binar mata Nia saat aku menatapnya. Ditambah angin sore yang  menggelitik bulu kuduk, sejuk sekali rasanya. Aku tahu ini berlebihan, menemaninya berjalan ke gerbang kampus yang jaraknya hanya beberapa langkah, seharusnya aku tidak segembira ini. Tapi, orang lain tidak akan mengerti apa yang aku rasakan. Cinta yang bersemayam dalam hatiku, tentu saja hanya aku sendiri yang merasakannya. Meskipun orang lain menganggapku gila, aku tidak peduli.
Tepat ketika kami sampai di depan gerbang, handphone Nia berdering. Ia segera merogoh handphone dari saku celananya lalu menjawab panggilan tersebut. Tanpa bermaksud menguping, aku mendengar sekilas percakapannya dengan seseorang di ujung telepon sana. Sempat kudengar Nia menyebut sebuah nama, seorang laki-laki. Tapi aku enggan untuk membahasnya. Berpura-pura tidak mendengar aku rasa lebih baik.
**********
Kenapa sih, Ni, susah banget deketin kamu? Apa aku kurang kece? Apa perlu aku mendekatimu sambil membawa bunga mawar? Apa aku harus memakai kostum winnie the pooh agar kamu menganggapku lucu lalu kamu tertarik padaku? Atau, aku harus operasi plastik agar wajahku mirip Afgan penyanyi favoritmu itu? Pikiran-pikiran tolol pun mulai berkeliaran dengan bebas di atas kepalaku. Membuat mahasiswa jurusan informatika ini semakin tolol karena asik berbicara dengan diri sendiri di pinggir jalan.
Apa yang harus kukatakan pada sahabat-sahabatku setelah ini? Mereka pasti sedang menungguku di basecamp. “Gue gagal lagi.” Ah, lagi-lagi aku harus mengatakan kalimat itu pada mereka.
Aku bergegas memacu motorku. Kondisi jalanan yang tampak lengang menggodaku untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Namun bayangan wajah Nia saat ia tersenyum dalam balutan kerudung birunya tadi, tiba-tiba saja hinggap di depan kelopak mata. Semilir angin sore seolah mengalunkan You’re Still The One-nya Shania Twain ke telingaku. Begitu lembut dan syahdu, menemaniku sepanjang perjalanan menuju basecamp. Segera kuurungkan niat untuk melesat dengan kecepatan tinggi. Aku ingin bercumbu lebih lama dengan senyum manis bak gula jawa itu. Semakin gila aku dibuatnya. Ingin sekali aku memutar arah untuk mengejar angkot yang ditumpangi Nia, memberhentikannya lalu meminta Nia turun dari angkot itu hanya untuk mengatakan bahwa betapa aku sangat mencintainya. Ah, seandainya jalan menuju hati Nia selengang jalanan seperti sekarang, mungkin tidak akan terlintas pikiran tolol seperti ini dalam kepalaku.
Setibanya di basecamp, ketiga sahabatku, Rian, Anton dan Anggi, sedang  asik berhaha-hihi ria seperti biasa. Di sinilah tempatku menghabiskan waktu bersama mereka. Hanya sekotak kamar kecil milik Rian yang berharga tiga ratus ribu rupiah perbulan.
“Eh, tuh si Egi,” seru Anggi, satu-satunya perempuan di antara kami berempat, “muka lo lecek amat, Gi,” katanya lagi.
“Ya... biasalah, Nggi.”
Yaelahh... jangan bilang lo gagal lagi,” ujar Anton.
“Santai, Bro, santai... keep calm and stay cool, ngerokok dulu lah biar rileks, biar lebih enak juga nyeritainnya. Oke, Bro?” kata Rian padaku sambil menyodorkan sebatang rokok. Sahabatku yang satu ini memang memiliki pembawaan yang selalu santai.
Sebatang rokok putih kini terselip di sela-sela jariku. Sesekali aku menghisapnya dalam-dalam lalu menyemburkan asapnya dengan penuh kepuasaan. Membuatku sedikit lega. Perasaan galauku karena Nia seolah ikut menguap bersamanya.
“Gue gak tahu harus gimana lagi untuk dapetin hatinya Nia. Kayaknya gue emang bukan laki-laki idaman dia.”
“Udah? Segitu doang kemampuan lo? Pantesan aja lo jomblo terus, baru segitu aja udah nyerah,” kata anton sinis.
“Siapa yang bilang gue nyerah? Sotoy lu, ah!”
“Lo emang nggak bilang nyerah, tapi kata-kata lo tadi nunjukin kalo lo nyerah,” Anggi nimpalin, “cari cara lain lah, datengin kek rumahnya, atau apa gitu. Cape deehh...!” lanjut Anggi, ia menempelkan punggung lengannya ke jidat persis seperti anak-anak alay yang sering nongol di televisi.
“Gue setuju sama Anggi.” Rian ikutan, “Inget, Gi, Nia tuh cewe berjijlbab. Lo sendiri yang bilang kalau Nia itu berbeda dari gadis lain, jadi ngedekatinnya harus pake cara yang beda juga.”
“Maksud Lo?” tanyaku bingung.
Alis Anggi beradu. Kerung
“Cewe seperti Nia tuh biasanya anti sama yang namanya pacaran, Gi,” Rian berhenti lagi sesaat untuk menyalakan roko, “berapa kalipun lo berusaha, gue jamin hasilnya bakal sama. Meskipun seandainya,  Nia memiliki perasaan yang sama dengan lo.” Rian mengangkat kedua jarinya memberi tanda kutip pada kata ‘seandainya’ seolah ingin memberikan penegasan bahwa ia hanya berandai-andai saat berkata Nia memiliki perasaan yang sama denganku.
“Setuju banget gue!” Anggi yang nyela, “sebagai cewe, gue juga pasti lebih respect sama cowo yang gigih and nggak cemen. Buktiin keseriusan lo, Gi. Kalau perlu, tunjukin sama Nia bahwa niat lo bukan sekadar ingin pacaran. Yakinin Nia bahwa lo siap untuk menikahinya.”
“Menikahinya!” Anton mengutip kata-kata Anggi dengan tegas, kemudian disusul anggukan tanda setuju dari Rian.
“Satu hal lagi,” Rian nambahin, “Nia itu gadis baik dan cantik, jangan pikir cuma lo aja yang naksir sama dia. Tidak menutup kemungkinan ada ratusan laki-laki yang sedang berlomba ngedapetin hatinya Nia. Dan mungkin juga mereka jauh lebih gigih dari lo. Saingan lo pasti banyak,  Gi.”
Aku tersentak mendengar kata-kata Rian barusan, teringat akan seseorang yang menghubungi Nia sore tadi. Siapa laki-laki itu? Apa mungkin dia salah satu dari ratusan laki-laki yang dimaksud Rian? gumamku dalam hati.
Bagaimana bisa aku menjadi laki-laki idaman Nia? Jangankan untuk mendapatkan hatinya, mendapatkan nomor teleponnya saja aku tidak bisa. Tiba-tiba aku merasa kerdil di hadapan sahabat-sahabatku ini
“Oke, gue setuju. Malam ini gue bakal ngelakuinnya, tapi gue butuh bantuan lo."
Aku mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan kata-kataku.
“Anterin gue ke rumah Nia, sekarang.”
“Mau ngapain lo?” tanya Anggi heran. Lagi-lagi alisnya beradu.
Anton dan Rian saling pandang, penuh selidik.
“Gue nggak mau keduluan sama cowok lain. Gue harus utarakan isi hati gue secepatnya.”
“Gila lo! Rumah Nia kan jauh banget dari sini.” Anggi nyeletuk.
“Demi cinta, apalah arti sebuah jarak...,” jawabku pelan tapi pasti.
Kata-kataku tadi menutup ‘rapat’ singkat bertema ‘Gadis berkerudung biru’ kali ini. Dan kesimpulannya adalah : “Meluncur ke rumah Nia, sekarang juga”.

**********
Motor kami berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil dan sederhana. Halaman rumah itu tampak asri dengan berbagai tanaman bunga yang menancap pada pot plastik, berderet rapi. Pada terasnya ada empat kursi kayu dan sebuah meja bulat berukuran kecil.
Dadaku berdebar tak keruan ketika berdiri di depan pagar rumah ini bersama Anggi. Nyaliku seperti menciut, keberanian yang kubawa dari basecamp tadi seolah habis berceceran di jalan selama menuju ke sini. Anton dan Rian masih duduk di atas sepeda motornya di belakangku.
“Ayo masuk.” Anggi menarik tanganku.
Aku mengikuti Anggi dengan langkah berat. Seolah ada sebongkah baja yang terkait di kakiku.
“Assalamu’alaikum...,” kata Anggi pelan seraya mengetuk pintu.
Wa’alaikum salam...” Seseorang menjawab salam dari dalam sana. Suaranya tidak asing lagi di telingaku. Aku yakin itu pasti Nia.
Dugaanku benar, Nia berdiri di ambang pintu saat pintu itu terbuka. Ia menyambut kami dengan senyum yang sama manisnya dengan senyumnya tadi sore. Hatiku semakin berdebar dibuatnya.
“Anggi, kamu... ” senyum Nia melebar lalu beralih menatapku.
“Hai, Ni, kita ketemu lagi,” sapaku sok santai. Mereka tidak tahu betapa berdebarnya jantungku melihat senyum Nia semanis itu di malam hari. Aku berani bertaruh, seandainya malam ini bulan tidak ada, senyum Nia sudah cukup untuk menggantikan cahaya bulan itu bagiku. Ah, lagi-lagi aku berlebihan.
“Silakan duduk.” Nia menunjuk kursi kayu di terasnya.
“Eh, Ni. Sorry, gue nggak bisa lama-lama di sini. Si Egi tuh yang punya hajat pengin ketemu lo. Pengin curhat katanya,” Anggi menoleh padaku, “gue tunggu di luar aja ya, kebetulan ada Rian sama Anton juga di sana.”
“Wahh... kamu bawa pasukan rupanya, Gi,” celoteh Nia.
Tanpa basi-basi lagi Anggi berlalu meninggalkan aku sama Nia. Kami duduk berhadapan, di depan meja bulat yang membuat sedikit jarak antara aku sama Nia.
“Kamu mau curhat apa?” Nia membuka percakapan.
Aku diam sejenak mengumpulkan kembali keberaniaku yang tadi sempat menciut.
“Nia, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. Tentang perasaanku. Kamu pasti tahu alasanku menunggumu di lobi kampus setiap hari.”
“Iya, aku tahu, untuk mengajakku pulang bareng ‘kan,”
“Bukan itu, Ni. Ini lebih dari sekadar pulang bareng.”
“Lalu apa?” tanyanya.
“Aku menyukaimu.”
Nia menatapku serius. Entah apa arti di balik tatapannya itu. Tidak bisa kuterka. Jantungku semakin tak keruan menunggu respons Nia atas kata-kataku.
“Egi, rasa suka itu tidak se-simpel yang kamu katakan barusan. Banyak hal yang perlu kamu pertimbangkan untuk membuatmu yakin terhadap apa dan siapa yang kamu sukai...”
“Aku yakin kamu perempuan yang terbaik buat aku, Ni.”Aku memotong kata-kata Nia.
“Aku tahu kamu laki-laki yang baik, tapi itu tidak cukup, Gi. Kalau kamu serius, setelah lulus kuliah nanti kamu bisa datang lagi ke sini untuk melamarku. Sementara ini, matangkanlah dirimu untuk menjadi laki-laki yang lebih baik lagi, karena di luar sana ada laki-laki lain yang juga menantiku.”
Tubuhku kaku. Seperti ada sesuatu yang menghujam jantungku. Kata-kata Nia terasa seperti jarum yang menusuk-nusuk isi kepala dan tenggorokanku.
 “Lebih baik sekarang kamu pulang. Sayang waktumu jika hanya digunakan untuk memikirkan hal-hal seperti ini. Masih banyak hal penting yang harus kamu  pikirkan, Egi.
Lidahku kelu, seperti ada segumpal daging mentah yang menyumpal mulutku, bibirku terkunci rapat. Aku tidak berdaya dibuatnya, gadis ini benar-benar telah melumpuhkanku.
Langit semakin menghitam menandakan bahwa malam sudah semakin jauh meninggalkan siang. Wajar kalau Nia menyruhku segera pulang. Memang tidak pantas rasanya kami duduk berdua di sini. Aku paham maksud Nia.
“Nia...,” aku memanggilnya lagi saat ia hendak masuk ke dalam rumah.
Nia berdiri di ambang pintu samil menoleh ke arahku.
“Apa laki-laki itu Mas Angga?” tanyaku kemudian, “maaf, tadi sore aku sempat menguping pembicaraanmu di telepon.”
“Iya,” Nia mengangguk, “Mas Angga sudah melamarku beberapa waktu yang lalu. Tapi aku memberikan keputusan yang sama denganmu. Percayalah, Tuhan pasti sudah menggariskan yang terbaik untuk kita, Egi.” 
Entah apa yang aku rasakan saat ini. Sulit rasanya untuk menerjemahkan perasaanku sendiri. Yang aku tahu hanyalah, aku sangat mencintai Nia. Dan mulai sekarang, sesuai permintaan Nia, aku bertekad untuk menjadi laki-laki yang lebih baik lagi. Demi diriku sendiri, dan demi Nia.

2 komentar:

  1. Heloooooo..... maaf telat y mas. Hoho
    Ceritanya manis.... aku suka...

    Tapi. Aku rada keganggu ama bagian yg ini mas;
    1. ".... satu hal lagi." Rian nambahin.... kenapa ga ganti jadi... "... satu hal lagi" tambah Rian. Hehehe kata nambahin t g enk aj gt Mas bacany..

    2. Trs kalimat ini... -meninggalkan aku sama nia..- knapa ga pke kalimat... -meninggalkan aku bersama nia- aj? Hehe

    Ud itu aj. Maaf y Mas klo sotoy. Hoho....

    Keep writing.!!

    Eh tpi, itu judulnya mirip ama cerpen aku. Ada birunya. Akakakakakakakak. Ga penting

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emnn... bener juga sih, setelah kubaca ulang ternyata ada beberapa kalimat yang nggak enak dibaca. Jadi malu aku hikss... :(

      Makasih ya udah nyempetin baca & komen. :)

      Hapus