Oleh: @Amad_Kocil
Indri terduduk lesu di atas kasur ibunya yang kini tak bertuan. Mata bulat
nan bersih milik gadis berusia tujuh belas tahun itu tampak redup memandangi
foto sang ibu dalam bingkai kecil di tangannya. Pancaran cahaya di matanya
seolah terkuras habis bersama butiran bening yang terus menetes membasahi kedua
pipinya. Sesekali terdengar isakan tangis terputus-putus seperti berusaha
ditahan supaya tidak didengar oleh siapapun, bahkan oleh cicak yang gelantugan
pada atap di atas kepalanya.
“Maafin Indri, Bu…
Indri belum bisa menjadi anak yang baik buat Ibu.” Suaranya lirih, menyiratkan penyesalan yang teramat sangat. Ia mendekatkan bingkai itu ke wajahnya, memandanginya sesaat lalu menciumi wajah sang ibu yang kini sudah berbeda alam dengannya.
Indri belum bisa menjadi anak yang baik buat Ibu.” Suaranya lirih, menyiratkan penyesalan yang teramat sangat. Ia mendekatkan bingkai itu ke wajahnya, memandanginya sesaat lalu menciumi wajah sang ibu yang kini sudah berbeda alam dengannya.
**********
”Nya, pulang sekolah temenin aku nyari kerja yuk,” kata Indri pada
sahabatnya, Anya, yang sedang lahap menyantap mie rebus saat jam istirahat
sekolah.
“Heehh…? Nyari kerja?” Suapan Anya berhenti di udara, ia menatap Indri
dengan wajah setengah tidak percaya, “kamu nggak bercanda kan?”
Indri menganguk, “iya, aku butuh uang nih buat bayaran sekolah, sekalian
buat nambahin biaya berobat ibu.”
Sudah hampir sebulan ini
ibunya sakit-sakitan. Awalnya, Indri menanggapinya biasa saja mengingat usia sang
ibu yang sudah tidak muda lagi. Mungkin
karena faktor usia. Sudah biasa juga kan ibu sakit begini, nanti juga sembuh sendiri, pikirnya waktu
itu. Namun semakin hari kondisinya semakin melemah hingga beliau memutuskan
untuk berhenti bekerja sebagai tukang sapu jalanan yang hanya digaji tujuh
ratus ribu rupiah perbulan.
“Kenapa mesti kamu yang nyari
kerja sih? Ayah kamu apa kabar?” celetuk Anya, mengingatkan Indri akan sang
ayah yang sudah meninggalkannya sejak tujuh tahun silam, tepatnya ketika Indri
duduk di bangku kelas lima SD.
”Mana aku tahu?” Indri malas menjawab
pertanyaan Anya. Bagi Indri, ia hanya memiliki satu orang tua. Hanya Ibu. Tanpa
ayah.
”Sorry...,” Anya meletakkan sendok berisi mie yang tadi hendak
dimasukan ke dalam mulutnya. Ia merasa bersalah dengan pertanyaan yang dilontarkannya.
Anya sadar bahwa sahabatnya itu paling tidak mau bergantung pada orang yang
sangat dibencinya. Sekalipun ayahnya sendiri.
Obrolan merekapun berakhir
bersamaan dengan bunyi bel sekolah tanda jam istirahat telah habis. Setelah
menghabiskan mie rebusnya, mereka bergegas masuk ke dalam kelas.
Sepulang sekolah, mereka
langsung meluncur ke pusat kota mencari pekerjaan untuk Indri. Pencarian
dimulai dari sebuah toko kue yang sudah sering mereka jumpai setiap kali pergi
ke Taman Alam, tempat favorit mereka. Namun hasilnya nihil. Pencarian berlanjut
ke toko elektronik yang terletak tidak terlalu jauh dari toko kue, dan hasilnya
pun kembali nihil. Tidak sampai di situ, Indri terus melangkahkan kakinya tanpa
lelah demi mendapatkan pekerjaan. Pikiran tentang ibunya membuat kaki Indri
seperti terbuat dari baja, terus melangkah semakin jauh dan mengabaikan lelah
yang dirasakannya. Tapi tidak dengan Anya.
”Ndri, udah sore nih,
istirahat dulu yuk. Aku capek.”
Indri melirik jam tangannya.
Dilihatnya jarum jam sudah menunjukan pukul setengah lima. Langitpun tampak
mendung pertanda sebentar lagi akan turun hujan. ”Ah, iya udah sore. Ya udah
deh kita lanjutin besok aja. Nggak enak juga sama Tante Lien.”
Beberapa hari ini, yang menjaga ibunya adalah Tante Lien, orang
terdekat mereka yang sudah bertetangga lebih dari lima tahun. Tante Lien juga
yang meminjamkan uangnya saat pertama kali ibunya berobat. Namun selanjutnya
Indri menolak bantuan Tante Lien karena merasa tidak hati. Ia memilih untuk
mencari uang sendiri.
Hujan turun deras sekali ketika Indri tiba di
depan rumah. Ia membuka pintu dan mengucapkan salam, dilihatnya sang ibu sudah
terlelap di kamar dengan selimut tipis yang mungkin tidak akan bisa melindungi
tubuh tua itu dari hawa dingin mengingat hujan turun deras sekali. Indri
mengambil selimut yang ada di kamarnya lalu menyelimutkannya ke tubuh sang ibu supaya bisa melindunginya
dari hawa dingin.
Di bawah lampu kamar yang kuning temaram, wajah
Indri tampak begitu redup. Berbanding terbalik dengan ekspresi yang ia tunjukan
di depan Anya.
“Baru pulang, Nak?” sapa Tante Lien tiba-tiba
sambil menghampiri Indri.
“Iya, Tante.” Indri meraih tangan Tante Lien lalu menciumnya dengan santun.
“Maaf Indri pulangnya sore, tadi ada tugas dari sekolah yang harus diselesaikan
bersama Anya,” tutur Indri. Ia sengaja berbohong karena takut ibunya tiba-tiba
bangun dan mendengar kata-katanya. Hal itu tentu akan membuat beban baru yang semakin berkecamuk dalam batin sang
ibu.
“Tidak apa-apa, Nak. Ya sudah kalau begitu Tante
pamit pulang ya. Tapi maaf besok Tante tidak bisa datang ke sini karena ada
keperluan mendadak. Itu di dapur sudah Tante siapkan makanan buat kamu sama
ibu. Sekalian buat makan malam. Kalau ada apa-apa jangan sungkan ya.”
“Terimakasih banyak, Tante. Maaf Indri ngerepoton
lagi.”
Tante Lien hanya tersenyum. Diusapnya rambut Indri
dengan lembut kemudian pamit lalu menghilang di balik pintu.
**********
Pagi ini Indri mengurungkan niatnya untuk pergi ke
sekolah. Selain karena ingin melanjutkan usahanya mencari kerja sampingan,
Indri juga ingin sekali memanjakan dan merawat ibunya. Paling tidak, selama
beberapa jam ke depan sebelum ia meninggalkan rumah.
“Bu, Indri masakin bubur buat sarapan ya?”
Perempuan tua itu mengangguk perlahan, beliau
masih terbaring lemah di atas kasur. Indri bangkit dan segera menuju dapur
untuk menyiapkan sarapan.
Sang ibu hanya bisa memandangi anaknya itu dengan
perasaan yang sulit untuk digambarkan. Tiba-tiba pikirannya melayang kembali ke
masa lalu. Membayangkan Indri kecil yang duduk di pangkuanya dengan manja, saat
Indri merengek minta dibelikan sepatu baru yang ada lampunya, saat Indri pulang
sekolah dalam keadaan kotor karena terjatuh kedalam got, saat Indri kecil
mengikuti lomba pidato dalam acara tujuh belas Agustus.
Meski sekarang Indri sudah remaja, namun ada
sesuatu yang mengganjal dalam benak sang ibu. Yaitu tugasnya sebagai seorang
ibu. Bagaimana bisa ia hanya berbaring di atas kasur? Sementara perjalanan
hidup anaknya masih sangat panjang. Mulai dari menyelesaikan sekolah,
mewujudkan keinginan Indri melanjutkan kuliah, hingga menyaksikan anak gadisnya
itu menikah suatu saat nanti. Batinnya semakin bergejolak menyadari dirinya
tidak bisa lagi berbuat banyak. Perlahan, butiran hangatpun menjulur menelusuri
kulit pipinya yang sudah mengendur karena termakan usia.
Indri baru saja selesai menyuapi ibunya ketika
terdengar suara ketukan dari balik pintu rumah. “Tante Lien? Bukannya kemarin
dia bilang bahwa hari ini dia ada perlu?” tanya Indri dalam hati.
Ternyata Anya. Sahabatnya itu berdiri di ambang
pintu dengan sebuah kantong plastik berisi berbagai macam makanan saat Indri
membuka pintu.
“Anya, ngapain kamu ke sini? Bolos sekolah ya?”
tanya Indri heran. Kemudian mempersilan Anya masuk.
“Iya, ada kabar baik buat kamu, Ndri. Tadinya mau
kasih tahu di sekolah tapi kamunya nggak ada, jadi aku susul aja ke sini. Nih,
buat ibu.” Anya menyerahkan kantong plastik yang dibawanya..
“Terimakasih, Anya, kamu baik banget. Oh, iya, kamu
bawa kabar baik apa sampai belai-belain kabur dari sekolah?”
Anya mengajak Indri ke depan pintu. Berita yang
akan disampaikannya sepertinya sesuatu yang penting dan tidak boleh didengar
oleh ibunya Indri.
Benar saja, ketika sampai di luar pintu Anya
menyampaikan berita baik yang dibawanya. Anya mengatakan bahwa dia telah
mendapatkan kerjaan sampingan dari tetangganya, menjadi badut penghibur
anak-anak di Taman Alam. Kabar baiknya
lagi, upahnya akan langsung ia terima hari ini juga setelah pekerjaannya
selesai. Tanpa pikir panjang lagi Indri langsung menerima tawaran Anya.
Setelah merapikan diri, Indri bersama Anya
bergegas ke Taman Alam. Tempat yang sudah tidak asing lagi bagi mereka karena
di sanalah mereka biasa menghabiskan waktu sepulang sekolah.
Sesampainya di Taman Alam, mereka
disodori sebuah kostum badut berbentuk tikus. Tanpa keberatan sedikitpun, mereka
langsung menerimanya dengan senang hati.
“Kamu ikutan juga, Nya?” tanya
Indri yang awalnya mengira Anya hanya akan menemaninya selama dia bekerja.
“Iya dong, aku juga perlu uang
buat beli buku hehe....”
Beberapa saat kemudian mereka disibukkan
oleh para pegunjung taman yang sebagian besar dari mereka adalah anak-anak.
Mereka pun tenggelam dengan kesibukan barunya bersama tawa renyah anak kecil
yang berhasil mereka hibur.
Menjelang siang, pikiran Indri
tiba-tiba teringat akan ibunya yang ia tinggalkan sendiri. Siapa yang mengambilkan minum kalau ibu haus? Terus bagaimana kalau ibu
lapar? Siapa yang akan menyuapinya? Terbesit niat dalam benak Indri untuk
pulang dulu ke rumah menengok keadaan ibunya, tapi dengan cepat ia menepis niat
itu. Ah, nggak apa-apalah ibu sedikit
telat makannya. Toh setelah ini aku bakal dapat uang untuk membeli obat
sekalian membawa makanan yang enak buat ibu. Anggi berbicara sendiri dalam
hati.
Tanpa terasa hari sudah sore.
Itu artinya pekerjaan mereka hari ini telah selesai. Setelah menerima upah masing-masing
sebesar dua ratus ribu rupiah mereka bergegas pergi meninggalkan Taman Alam. Di
perjalanan menuju apotek, tempat Indri hendak membeli obat, Anya menyerahkan
upah yang tadi diterimanya kepada Indri. Sontak, Indri memandang sahabatnya itu
dengan heran.
“Sorry, tadi aku bohong, Ndri. Sebagai sahabat, mana tega aku
ngebiarin kamu berjuang sendirian. Maaf, cuma ini yang bisa aku bantu.”
Di luar prinsipnya yang
pantang menerima bantuan secara cuma-cuma, bagaimanapun juga, Indri memang
sangat memerlukan uang itu. Ia memeluk Anya dengan erat, menyampaikan rasa
terima kasih yang teramat sangat.
Kini Indri bisa bernapas lega.
Ia tidak sabar untuk segera menemui sang ibu. Selain obat dari resep dokter,
Indri juga membeli beberapa makanan serta buah-buahan untuk ibunya. Akhirnya aku bisa membahagiakan ibu walaupun
hanya dengan ini. Indri kembali bergumam dalam hati sambil tersenyum lebar
mambayangkan ibunya begitu lahap memakan buah-buahan yang ia beli dari hasil
keringatnya sendiri.
Sesampainya di depan rumah,
Indri mendapati sesuatu yang tidak biasa. Beberapa orang warga sekitar tampak
sedang berkumpul di sana. Sebagian ada yang memekik nahan tangis, ada juga yang
hanya berdiam diri dengan wajah penuh duka.
Indri kemudian mempercapat
langkahnya mendahului Anya. Tidak jauh berbeda dengan di luar sana, di dalam
rumah terdapat beberapa orang warga, termasuk di antaranya Tante Lien. Belum
sempat Indri menyapa Tante Lien, beliau langsung memeluk Indri dengan erat disusul pelukan Anya, tepat di
depan kamar sang ibu yang... kini telah terbujur kaku. Tak bernyawa.
**********
Komen ya, Kak :))
BalasHapus1. Paragraf pertama pada kata 'siapapun', tanya mimin deh. yang bener itu -pun dipisah atau enggak.
2. ia menatap Indri dengan wajah setengah tidak percaya, “kamu nggak bercanda kan?” >>> setelah kata 'percaya' (,) terus dialognya huruf awal kapital, Kak. "Kamu nggak bercanda kan?". Berlaku untuk semua dialog yang sebelumnya ada tanda baca koma.
3. Indri menganguk >>> Typo?
4. Namun selanjutnya Indri menolak bantuan Tante Lien karena merasa tidak hati. >>> merasa tidak hati? Typo?
5. Terimakasih banyak, Tante >>> Kak, yang bener "terima kasih", bukan "terimakasih".
6. saat Indri pulang sekolah dalam keadaan kotor karena terjatuh kedalam got >>> "ke dalam".
Aku kurang dapet feelnya, Kak :((((
Huwaa... :(((((
HapusMaaf saya nulisnya asal-asalan, lagi nggak ada ide soalnya. Jadinya bikin lanjutan cerpen yang udah ada.
Makasih ya komentarnya. Pencerahan banget. :))
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMasss.... *muka imut*
BalasHapusReviewnya, nih :))
Ah, nggak apa-apalah ibu sedikit telat makannya. Toh setelah ini aku bakal dapat uang untuk membeli obat sekalian membawa makanan yang enak buat ibu. Anggi berbicara sendiri dalam hati. (P.S Tokohnya kenapa berubah jadi Anggi?? typo, kah?
'Setelah menerima upah masing-masing sebesar dua ratus ribu rupiah mereka bergegas pergi meninggalkan Taman Alam.' <-- aku ngos-ngosan baca ini. tanda baca perlu, Mas. mungkin bisa jadi gini. 'Setelah masing-masing menerima upah sebesar dua ratus ribu rupiah, mereka bergegas pergi meninggalkan Taman Alam.'
the last, setuju sama Opi feelnya kurang. endingnya pun nggak ada yang spesial kaya martabak (abaikan martabaknya). harusnya si tokoh bisa merasakan fell ketika ibunya meninggal. misalnya nangis, jatuhin obatnya karena shock. bikin agak dramatisir karena kehilangan ibunya.
untuk tanda baca, udah dibahas sama Opi. keep writing, mas!! :))
Aduh malu euy salah nyebut nama tokoh :(( Iya itu harusnya Indri, bukan Anggi. Itu tokoh di tulisanku yang lain. *maaf maaf... XD
HapusMakasih ya udah nyempetin baca & kasih komentar, janji bakal lebih giat lagi belajar nullisnya. \m/
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomen yaa Mas, hehe... Hampir sama kayak yg laen sih.. kurang dapet feelnya, trus nada alurnya terkesan datar. Sebenernya sih temanya oke, meski sering diangkat, tp bisa diolah lebih keren lagi.... hehe... sorry rada sotoy, Mas...
BalasHapusIya, harus banyak belajar nih biar ceritanya nggak datar. Tks ya atas masukannya. :)
Hapusum kak, maaf ya telat banget kasih komennya ;;;;
BalasHapussoal teknis dan yang lain-lain termasuk eyd, kayaknya udah dikasih tau sama yang lain. gak begitu ahli masalah eyd jadi takut komentar nanti salah gitu (....) (da aku mah apa atuh) (....) tapi cerpennya, um, menurutku kurang kena. kurang greget. datar. konfliknya ada sih, cuma kurang keangkat. sama penggambaran sosok karakternya--um, kurang dapet .____. imho sih kak. maaf kalo kelewat sotoy huhu ;;u;;
Iya, belum lihai ngangkat konflik nih. Makasih ya komentarnya. Next time insya alloh lebih baik lagi. :)
HapusHalo, Mas. Maap baru sempat ngasih komentar di sini, saya jarang buka grup soalnya jadi selalu telat mau komentar di sana. :)
BalasHapusSebagian besar komentar saya udah ditulis sama yang lain. Feel-nya kurang dapet, mungkin karena alurnya agak terburu-buru. Saya biasanya nambahin jeda biar lebih mendramatisir, Mas. Misalnya, ada satu kalimat yang dipisah tanpa ada rentetan kalimat lain.
...Di perjalanan menuju apotek, tempat Indri hendak membeli obat, Anya menyerahkan upah yang tadi diterimanya kepada Indri. Sontak, Indri memandang sahabatnya itu dengan heran.
“Sorry, tadi aku bohong, Ndri. Sebagai sahabat, mana tega aku ngebiarin kamu berjuang sendirian. Maaf, cuma ini yang bisa aku bantu.”
Mungkin akan lebih dramatis kalau "Sontak...." dihilangkan, diganti dengan seperti ini.
...Di perjalanan menuju apotek, tempat Indri hendak membeli obat, Anya menyerahkan upah yang tadi diterimanya kepada Indri.
“Sorry, tadi aku bohong, Ndri. Sebagai sahabat, mana tega aku ngebiarin kamu berjuang sendirian. Maaf, cuma ini yang bisa aku bantu.”
Indri terperangah. Dipandangnya Anya lekat-lekat, heran.
Dan satu lagi, mungkin lebih asyik kalau tema ceritanya lebih unik. Hehe, maaf kalau masukannya nggak banyak membantu, Mas. Mari sama-sama belajar lagi! ^^
Halo juga. :)
HapusMasukannya oke kok. Pencerahan banget. Makasih ya, jangan kapok ngomentarin tulisanku. :)
Hallo Bang Kocil. Maaf baru sempet baca.
BalasHapusMenurut saya diksinya udah oke, meski ada beberapa kata yang saya temukan kurang tepat (menunjukan = menunjukkan, etc)
Fokusnya kurang, mungkin bisa ditambahin beberapa adegan bersama ibu biar kena feelnya. Di ending boleh tambahin simbol kematian kayak bendera kuning, dll.
Saranku lebih rasain feelnya. Jangan terburu2 ya. ^_^
Fighting!
Halo juga. :)
HapusIya, jujur aku belum nguasai bangy EYD-nya, jadinya ya gitu deh.
Aku juga selalu kesulitan buat nyampein feelnya, tapi insya alloh next time lebih baik.
Tks ya atas masukannya, jangan sungkan ngomentarin karyaku. :)