Sesederhana apapun cerita hidup yang kita alami, akan menjadi sebuah cerita menarik bagi orang lain apabila kita pandai mengolah kata saat menceritakannya.

Rehan & Aisyah


Oleh: @Amad_Kocil


Rehan berlari-lari kecil menuju rumahnya, menerobos hujan yang mengguyur tubuhnya tanpa ampun. Kakinya sedikit meloncat-loncat menghindari genangan air dari jalan yang becek dan berlubang. Baju koko yang dikenakannya basah kuyup, tubuhnya menggigil menahan dingin. Ia tergesa-gesa mengambil payung dan bergegas kembali ke mesjid.
Sesampainya di mesjid,  Rehan hanya mendapati Ihsan bersama remaja lainnya yang sedang asik mengobrol di luar mesjid. Mereka baru selesai rapat kepengurusan mesjid. Mata Rehan menyelidik, menyapu ke setiap sudut mesjid mencari sosok Aisyah, wanita yang sudah lama disukainya. Nihil! Aisyah tidak ada di sana. Mana bisa Aisyah pulang sendirian? Ia kan  tidak membawa payung. Batin rehan.

”Kamu telat, Han, Aisyah sudah pulang diantar oleh Kang Irwan. Kamu kelamaan sih....” Ihsan yang sedari tadi memerhatikan Rehan, bisa menebak gerak-gerik sahabatnya itu. ”Kamu harus lebih gesit kalau mau mendekati Aisyah, sainganmu berat.”
Untuk kesekian kalinya, Rehan kalah lagi. Tubuhnya lemas. Hawa dingin yang dari tadi tidak dirasakannya, karena terlalu bersemangat memikirkan Aisyah, kini seperti menjalar ke seluruh tubuh dan membekukan persendiannya.
Kang Irwan adalah ketua remaja masjid. Ia dan Rehan sama-sama menaruh hati kepada Aisyah. Selama ini keduanya bersaing dengan sehat untuk mendapatkan hati gadis cantik itu. Namun sejauh ini, tampaknya Kang Irwan berada di atas angin. Dari beberapa kesempatan yang ada, Kang Irwan selalu lebih dulu mendekati Aisyah. Singkatnya, Rehan selalu kalah cepat.
”Kamu lihat, San? Aku rela hujan-hujanan demi Aisyah. Apa Kang Irwan pernah melakukan hal yang aku lakukan sekarang?” sungut Rehan. Ia mulai merasa sebal kepada Kang Irwan.
”Jangan salahkan Kang Irwan. Harus diakui kalau Kang Irwan selalu ada saat Aisyah membutuhkan. Kamu harus ikhlas. Jangan sampai gara-gara cinta, hatimu jadi kotor. Ingat, Han, dengki itu salah satu penyakit hati yang paling berbahaya.” Ihsan menepuk pundak sahabatnya itu, lalu beranjak pulang.
Hujan yang tadi turun deras kini mulai mereda, hanya menyisakan rintik-rintik kecil yang tampak menari-menari saat menjatuhi halaman mesjid. Tidak seperti Ihsan, Rehan enggan untuk beranjak. Ia masih tidak percaya kalau dirinya belum pernah sekalipun berhasil mendekati Aisyah. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang, kecuali menunggu kesempatan lain. Bagaimanapun juga apa yang dikatakan Ihsan ada benarnya. Masalah cinta tidak perlu sampai mengotori hati. Rehan mengakui bahwa Kang Irwan sama dengan dirinya. Sama-sama ingin melakukan yang terbaik untuk Aisyah.
Lamunan Rehan terganggu ketika seorang laki-laki memasuki gerbang mesjid. Ia menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa laki-laki itu. Ternyata Kang Irwan.
”Han, kamu ngapain di sini?” tanya Kang Irwan ramah. Tanpa sungkan Kang Irwan duduk di samping Rehan.
”Ngg... anu, Kang....” Rehan kikuk.
”Kamu abis hujan-hujanan?” tanya Kang Irwan lagi.
Rehan semakin kikuk. Ia baru sadar kalau pakaiannya masih basah akibat hujan-hujanan tadi.
”Iya, Kang, biasalah...”

Hening....

”Kang, saya mau tanya sesuatu boleh?” tanya Rehan ragu.
”Silakan.”
”Kang Irwan beneran suka sama Aisyah?”
”Iya, kamu juga, kan?” Kang Irwan nanya balik. Matanya menelisik ke arah Rehan.
Rehan mengangguk. ”Seberapa besar rasa suka Kang Irwan untuk Aisyah?”
Kang Irwan diam sesaat, mencari jawaban yang tepat, ”Yang pasti lebih besar dari rasa suka kamu kepada Aisyah.”
”Tidak, Kang, rasa suka saya kepada Aisyah lebih besar dari Kang Irwan.” Rehan tidak mau kalah.
”Ya, semoga!” Kang Irwan menutup obrolan singkatnya dengan Rehan lalu bergegas masuk ke dalam mesjid. Sebagai ketua remaja, banyak hal yang harus dikerjakannya. Membuatnya terpaksa pulang larut setiap malam. Bahkan kadang-kadang ia sampai menginap mesjid.

**********

Semua remaja mesjid mempunyai jadwal mengajar ngaji anak-anak. Untungnya Rehan memiliki jadwal yang sama dengan Aisyah serta dua orang remaja lainnya, mengajar kelas sore. Dan sore ini Rehan datang ke mesjid lebih awal, menunggu Aisyah. Rehan ingin menjadi orang pertama yang ditemui Aisyah begitu ia datang ke mesjid. Berkaca dari pangalamannya kemarin malam, Rehan tidak lupa membawa payung untuk mengantar Aisyah pulang seandainya hujan turun lagi. Dan Rehan sangat berharap itu terjadi.
Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Seorang gadis berjalan dengan anggun memasuki gerbang mesjid. Deretan bunga mawar yang tumbuh di halaman mesjid seolah menunduk takdim, memberikan hormat kepada tuan putri. Tepian kerudungnya melambai-lambai karena tertiup angin sore yang menyejukkan. Kedua tangannya dilipat di dada, memeluk sebuah buku yang selalu dibawanya. Wajahnya merah merona memancarkan aura kecantikan yang membuat lelaki manapun rela mati demi dirinya.
Tapi apa yang dilihatnya tidak membuat Rehan puas. Rehan tercekat, ia kembali menelan kekalahan. Karena di saat yang bersamaan, Kang Irwan berjalan di samping Aisyah. Lagi-lagi, Rehan harus menelan pil pahit.
Arrggh...! Kenapa selalu Kang Irwan?! Rehan berteriak dalam hati. Hatinya disapa cemburu yang menggebu. Ia kesal, ingin marah semarah-marahnya. Tapi ia teringat akan pesan sahabatnya, Ihsan. Cinta tidak seharusnya mengotori hati, lalu mengucap istighfar memohon ampun atas kekhilafannya. Rehan tidak sudi terjerumus ke dalam jurang kedengkian.
Selesai mengajar, Rehan memilih untuk tadarusan di dalam mesjid. Ia tenggelam, khusyu dengan bacaan al-quran. Huruf demi huruf hijaiyah yang tergores hitam di atas putih itu kian merasuk, menyusup dengan lembut menenangkan hatinya. Membuatnya tidak lagi peduli terhadap Aisyah ataupun Kang Irwan. Ia menyerah dan mengakui kekalahannya. Sudah cukup rasanya Rehan berpura-pura menjadi pria tangguh. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah mengadu kepada Tuhan.
Tanpa terasa, azan maghrib berkumandang. Mesjid sudah ramai oleh orang-orang yang hendak menunaikan solat. Rehan bangkit lalu menuju tempat wudhu. Walaupun wudhunya belum batal, Rehan tetap memilih untuk mengambil wudhu lagi supaya solatnya lebih afdol. Lagi pula, Rehan teringat akan kata-kata Ustad Syuhada, bahwa orang yang sering terkena air wudhu wajahnya akan bercahaya, selain itu air wudhu juga bisa menyejukkan hati siapapun yang sedang bergejolak.
Di depan tempat wudhu, Rehan berpapasan dengan Aisyah. Ia menundukkan pandangan, menghindari kontak mata dengan Aisyah, menguatkan tekad untuk mengubur perasaannya dalam-dalam. Tapi suara lembut Aisyah saat menyapanya terlalu menggoda untuk diabaikan. Rehan mendongak, dilihatnya mata Aisyah sedang menatap ke arahnya.
”Nunduk aja jalannya, nanti nabrak lho.” Secuil senyum tersungging di bibir Aisyah.
”Ngg... hehe....,” Rehan kikuk, ”aku pikir kamu udah pulang, Syah.”
”Nggak, tadi lagi jalan-jalan sama Kang Irwan tiba-tiba hujan. Jadinya ke sini dulu sekalian solat maghrib.”
Jalan-jalan dengan Kang Irwan? Apa mereka sudah jadian? Ah sudahlah,  itu bukan urusanku. Rehan berbicara dalam hati kemudian melihat keluar. Benar saja, hujan turun deras sekali. Ia tidak menyadarinya karena tadi terlalu khusyu membaca Al-quran.
Lalu keluar huruf ”O” yang panjang dari mulut Rehan. Jawaban Aisyah semakin membuat kekalahannya tampak nyata.
Harapan Rehan memang terkabul. Malam ini hujan kembali deras. Tapi tidak dengan harapannya mengantar Aisyah pulang. Ya, harapan tinggallah harapan, semuanya kandas terhalang tembok besar yang dibangun oleh Kang Irwan.
Langit semakin menghitam, pertanda malam semakin jauh meninggalkan siang. Dari dalam mesjid, mata Rehan sekilas menangkap sosok Aisyah sedang berdiri di depan mesjid. Sesekali tangannya menjulur menyentuh rintik hujan, berharap hujan segera reda agar ia bisa segera pulang. Bukankah ini yang diharapkan Rehan? Memang benar, tapi itu dulu. Kali ini bukan Rehan yang terlambat memanfaatkan kesempatan, tepi kesempatan itu sendiri yang terlambat menghampiri Rehan. Ada kang Irwan ini..., Rehan tidak acuh. Ia hanya duduk memerhatikan Ihsan yang sedang melakukan praktek solat bersama murid-muridnya.
”Ehem...! Bengong aja kamu, Han.“ Seseorang menepuk pundak Rehan dari belakang.
”Eh, Kang Irwan...“ Rehan tersenyum.
Kang Irwan duduk di samping Rehan, ”Kamu tidak kasihan sama Aisyah?“ tanya kang Irwan kemudian.
Yang ditanya hanya mengerutkan alis, tidak mengerti maksud pertanyaan Kang Irwan, kemudian memaksa matanya untuk melirik Aisyah yang masih berdiri di luar mesjid.
”Katanya suka sama Aisyah, buktikan dong. Bagaimana Aisyah bisa tahu perasaan kamu kalau kamunya hanya diam saja.”
Tatapan Rehan menajam, apa Kang Irwan sengaja mengalah untuk memberi Rehan kesempatan?. Tidak, Rehan tidak butuh itu. ”Kang Irwan juga suka, kan? Kenapa tidak kang Irwan saja yang mengantar Aisyah pulang?”
”Saya memang suka sama Aisyah, tapi Aisyah menyukai laki-laki lain.” Kang Irwan mengubah posisi duduknya sebelum melanjutkan. Kini ia duduk berhadapan dengan Rehan, ”Aisyah menyukai laki-laki yang rela hujan-hujanan mencari payung untuk dirinya saat hujan deras. Tapi laki-laki itu pecundang, tidak berani menunjukkan perasannya.”
Tak dinyana, apa yang katakan Kang Irwan serta merta membuat Rehan tercekat. Ia bukannya tidak punya keberanian. Hanya saja, kesempatan itu selalu diambil alih oleh pria yang kini duduk di hadapannya. Tapi itu tidak terlalu penting sekarang. Rehan hanya terpaku menatap Kang Irwan tanpa tahu harus berkata apa.
”Apapun yang kamu lakukan demi Aisyah, Ihsan selalu mengatakannya kepada Aisyah. Dan tadi sore, Aisyah menceritakan semuanya kepada saya. Sekarang saya percaya, kamu lebih menyukai Aisyah lebih dari saya.” kang Irwan memalingkan wajahnya ke luar mesjid, ia menunjuk Aisyah dengan dagunya, ”Sana, lakukanlah yang terbaik buat Aisyah.”
Tanpa basa-basi lagi lagi Rehan bangkit dari duduknya. Langkahnya cepat, tangannya gesit menyambar payung yang tergeletak di samping jendela. Ia bergegas menghampiri Aisyah.
”Aisyah.... ayo aku antar pulang.” Rehan to the point.
Aisyah terkesiap menatap Rehan, alisnya mengangkat lalu mengerung, memastikan kalau ia tidak salah dengar.
“Kamu lagi nunggu aku, kan?” Ups! Rehan salah ngomong. “Eh, maksudnya, kamu lagi nunggu hujan reda, kan?” Rehan mengoreksi kata-katanya, lalu menawarkan diri mengantar Aisyah pulang. Tanpa pikir panjang, Aisyah langsung mengangguk, tanda setuju.
Begitu keluar mesjid, Rehan memetik satu tangkai mawar merah tanpa sepengetahuan Aisyah. Ia memasukkan bunga itu ke saku yang menggantung di baju kokonya.
Hujan malam ini membuat semua jalanan di kampung menjadi becek dan licin. Satu-satunya jalan paling aman menuju rumah Aisyah adalah rel kereta api. Mereka berjalan pelan menyusuri rel, diterangi lampu yang temaram dari rumah warga sekitar yang terpasang di sepanjang rel.
”Aku dengar kemarin kamu hujan-hujanan.” Aisyah membuka percakapan.
Rehan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ”Ngg... iya, kemarin itu... ngg....” lagi-lagi Rehan kikuk. Tidak tahu harus menjelaskan apa.
Rehan memperlambat langkahnya, lalu berhenti dan menghadapkan tubuhnya kepada Aisyah. Ia mengeluarkan mawar merah yang tadi ia petik.
”Ini buat kamu.”
”Eh, apa ini, Han?” tanyanya sambil menerima bunga itu dari tangan Rehan.
”Bunga mawar.” Rehan diam sesaat, mengambil jeda untuk mengatakan sesuatu, ”aku suka sama kamu.”
Aisyah mengulum senyum. Matanya berbinar, seolah semua bintang di langit berpindah tempat ke matanya.
”Kamu itu, baru sekali ngantar aku pulang sudah berani berkata seperti itu.” Aisyah masih tersenyum sambil mengalihkan matanya ke bebatuan di sekitar rel. Ia tersipu.
”Apa kamu mau jadi istriku, Aisyah?”
Aisyah tidak berani menatap Rehan. Pertanyaan Rehan terlalu membuatnya bahagia. Siapa sangka, selama ini, justru Aisyah lah yang diam-diam menaruh suka kepada Rehan. Sekian lama ia menunggu.
Aisyah mengangguk dengan lembut.
Dibawah langit malam, dua anak manusia telah melebur hatinya menjadi satu. Pengorbanan Rehan, penantian Aisyah, terbayar tuntas malam ini. Di bawah payung yang sama, langkah mereka begitu berirama dan kian menyatu dengan rintik hujan.

**********

2 komentar:

  1. Acieeeee direvisi.. gni lbih uwaw kak amad. Tp iy kta anggi, byk yg kurang d bbrpa kata ya. Kurang huruf.. ah, biasa.. hahaha...

    Ini jd bkin cerbungkan kak?

    Cemungud kak amad. Lanjutiiinnnnnn

    BalasHapus
  2. Makasih, Cha.
    Itu baru direvisi semalem, jadi buru-buru karena ngejar DL. *Ngelesmodeon* :D

    Doakan, mudah-mudahan bisa bikin cerbung hehee...

    Oia, tks udah nyelamatin tugasku dari kenistaan #halah :D

    BalasHapus