“Lo itu ibarat kacang lupa sama kulit. Apa gue harus minta sama Tuhan untuk mengambil semua yang udah lo miliki sekarang? Supaya lo sadar apa yang lo miliki sekarang ga lebih berarti dari seorang sahabat”
Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Jena seakan-akan menamparku dengan