Sesederhana apapun cerita hidup yang kita alami, akan menjadi sebuah cerita menarik bagi orang lain apabila kita pandai mengolah kata saat menceritakannya.

ARP GOES TO SAWARNA: CHAPTER 1


Oleh: Amad Kocil


Dulu, dulu sekali, ketika melintas di jalan raya, saya sering melihat rombongan sepeda motor dalam jumah besar dengan aksesoris yang hampir sama. Jaket, stiker, logo hingga jenis motor yang mereka kendarai. Semua tampak seragam. Pergerakan mereka pun begitu berirama. Seperti ada rantai pengikat antara motor satu dengan motor yang lainnya. Terlebih ketika saya melihat pengendara motor yang berada di posisi paling depan. Sesekali ia menggerakkan tangan, bahkan kaki, lalu diikuti oleh rekannya di belakang. Kompak sekali.
Ah, saya langsung membayangkan seandainya saya ada di dalam rombongan itu, seandainya saya menjadi salah satu dari mereka, tentu akan senang sekali rasanya. Saya menduga, tempat-tempat yang mereka kunjungi pasti bukan tempat biasa. Selain jauh, pasti istimewa dan syarat akan keindahan alam.
Belakangan saya tahu, pemandangan yang saya lihat itu disebut rombongan touring. Konon katanya, hubungan kekeluargaan pelaku touring ini begitu kental. Perlahan, saya mulai tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang hal itu. Bahkan kalau bisa, dan kalau ada kesempatan, saya ingin seperti mereka. Melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai sepeda motor. Di mana dalam setiap putaran rodanya selalu ada kebersamaan, hingga melahirkan status kekeluargaan.
Dan akhirnya, bertahun-tahun kemudian, Tuhan mengabulkan doa saya.


*************


Ini adalah pengalaman touring saya yang keempat bersama AHAP RIDERS PROTECION (ARP). Rencana touring biasanya disiapkan satu bulan sebelumnya. Berhubung touring  kali ini bertepatan dengan ulang tahun ARP yang kedua, jadi banyak sekali acara yang telah disusun oleh panitia, (ceileh... panitia) berasa agustusan hakhakhak... Susunan acaranya antara lain adalah api unggun, pengangkatan ketua ARP yang baru, Stand Up Comedy Battle, pembagian doorprize dan pelepasan lampion. Pokoknya pasti bakal seru banget. Saya yang awalnya tidak berniat ikut karena terkendala beberapa hal, akhirnya berubah pikiran dan memutuskan untuk ikut.
Satu minggu sebelum keberangkatan, euforia touring semakin memanas. Beberapa anggotanya mulai terlihat sibuk memodifikasi motor. Ada yang mengganti klakson, otak-atik mesin motor, pasang lampu sana-sini sampai motornya keliatan seperti pasar malam berjalan. Faber, ketua ARP saat itu, berkali-kali mengajak semua anggota meeting untuk membahas mekanisme keberangkatan. Meeting berjalan lancar. Kesepakatan pun didapat. Jadwal keberangkatan, jalur yang akan ditempuh, siapa boncengan dengan siapa, siapa yang bertugas sebagai penunjuk jalan, serta pengatur ritme perjalanan di posisi belakang untuk memantau semua anggota dan memastikan tidak ada anggota yang ketinggalan selama dalam perjalanan.
Jumat malam tanggal 11 November 2016, sekitar pukul 19.30 waktu setempat, kami berkumpul di kantor Harta Kramat untuk melakukan persiapan. Saya sendiri tidak mengerti persiapan seperti apa yang dimaksud. Yang jelas, saat itu semuanya tampak sibuk. Yang perutnya kosong dipersilakan makan dulu, yang bensinnya kosong dipersilakan isi bensin dulu, yang hatinya kosong dipersilakan loncat dari atap gedung hotel Acacia. :p
Sementara yang lain sibuk melakukan persiapan, saya duduk menyendiri di pojokan toilet sambil merenungi si dia yang tak kunjung peka. #halah
Dua jam kemudian, semua persiapan telah selesai. Sesaat sebelum berangkat, kami melakukan ritual terakhir yang tak kalah penting dengan persiapan lainnya. Yaitu berdoa. Kali ini saya dikerjai sama si Faber. Saya disuruh maju ke depan untuk memimpin doa. Ketika saya maju, malah dia yang mimpin doa. Pan kamfret! -___-
Setelah berdoa, tidak lupa kami berfoto bersama sebelum berangkat. Berikut hasil jepretannya.

By the way, itu fotonya pakai handphone saya. Baru beli dari Rachmat Celullar.
U know lah :D


Tepat pukul 21.30, kami mulai tancap gas. Kendaraan kami meluncur meninggalkan kantor Harta Kramat, membelah jalanan ibu kota di bawah penerangan lampu jalan yang temaram. Belokan demi belokan kami lalui, tangan teracung ke atas, kaki berjingkat ke kanan dan ke kiri, sangat berirama. Suara klakson featuring suara gas yang digerung-gerung menggema sepanjang perjalanan. Kendaraan yang berlalu lalang di depan kami bisa kami salip dengan begitu mudah. Kami benar-benar berlagak bak penguasa jalanan. Malam itu, kota Jakarta seperti menjadi milik kami. Dan kami sangat menikmatinya.
Tanpa terasa, kebisingan ibu kota lambat laun mulai senyap, pertanda bahwa kami sudah keluar dari kota Jakarta. Kami pun menyadari bahwa saat itu kami sudah berpijak di atas tanah Bogor.
Oh iya, rombongan kami terbagi dua. Sebagian menggunakan motor (termasuk saya, dibonceng sama Agung), sebagian lagi menggunakan mobil yang khusus disiapkan untuk mengangkut cewek-cewek manis. Indah, Amy, Nina, Ayu dan Ari. Dan tentunya, rombongan di dalam mobil dipimpin oleh dua cowok tampan, Leo dan Ridho.
Sebentar, sebentar... kalau cewek-cewek di dalam mobil disebut manis, lalu apa kabar dengan cewek-cewek yang di motor? Putri, Dhea, Liza, Evra, Cika dan Siti? Emnn... Cewek-cewek yang di motor ya pasti lebih manislah. Kenapa? Karena nuansa adventure di atas motor membuat cewek-cewek ini terlihat lebih mempesona di mata saya. *tebar senyum*

Lanjut...

Meninggalkan kota Bogor, kami memasuki jalan perkampungan yang entah apa namanya (saya lupa nanya). Tapi bukan berarti kami akan segera sampai di tujuan. Justru di sinilah perjalanan yang sebenarnya dimulai. Jalanan tersebut diapit rumah-rumah warga. Lampu-lampu neon bergelantungan di kedua sisinya. Kadang-kadang jalannya gelap gulita, segelap kisah asmara saya dengan sang mantan. Huft!
Mengingat jalan yang kami lalui adalah milik warga setempat, kami memperlambat kecepatan dan berkendara sesenyap mungkin karena khawatir mengganggu warga. Bagaimanapun juga, kami cukup tahu diri untuk bersikap sebagai tamu yang sopan dan beradab.
Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, kami sampai di pomp bensin daerah Sukabumi, tepatnya daerah Parung Kuda. Selain adanya beberapa anggota yang kehabisan bensin, ada juga salah anggota kami yang bermasalah dengan rantai motornya. Entah apa yang terjadi. Yang jelas, kondisi rantai motornya sangat mengganggu perjalanan. Beruntung ada Beni Bento yang lihai sekali mengotak-ngatik perangkat motor. Dalam sekejap, masalah tersebut berhasil ia atasi dengan sangat baik. Pada saat yang bersamaan, rombongan yang di dalam mobil tiba dan bergabung dengan rombongan kami.
Selesai dengan bensin dan rantai motor, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Rencana awalnya, jam tiga dini hari ini seharusnya kami sudah sampai di Pelabuhan Ratu, tapi nyatanya rencana kami meleset. Dengan dikomandoi oleh Faber, Ferry dan Agung, kami segera meluncur menuju Pelabuhan Ratu untuk mengejar waktu istirahat.
Jalanan yang kami lalui menuju Pelabuhan Ratu ternyata jauh lebih extrem. Kami dihadapkan dengan jalan berkerikil dan terjal, membelah hutan belantara, basah dan licin, tanjakan dan turunan yang sangat berbahaya, tikungan-tikungan tajam serta pepohonan rindang yang berderet tak beraturan pada kedua sisinya. Daun pepohonan itu tidak lagi terlihat hijau, tapi hitam pekat karena tertutup malam. Jujur saja, bulu kuduk saya sempat meremang. Bagaimana tidak, sejauh mata memandang, hanya gelap yang kami lihat. Berbeda dengan jalan yang kami lalui sepanjang kota Jakarta yang ditemani berbagai macam keramaian serta lampu-pampu jalanan. Namun di hutan ini, kami hanya mengandalkan lampu kendaraan untuk penerangan. Dan  tentu saja, penerangan jalan dibantu oleh rombongan di dalam mobil yang berjalan di belakang kami. Selebihnya, di luar area yang tidak terjangkau lampu kendaraan, kami meningkatkan kewaspadaan demi terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Ini baru namanya adventure. Kami mengerti cara menikmati seni berkendara ala pria sejati. Jauh berbeda dengan pria-pria alay di luar sana yang hobinya nonton konser JKT48. Lihat paha dedek gemes macam Nabila aja langsung nepsong. *deziigh!*
Beberapa saat kemudian, saya mulai terbiasa dengan pemandangan gelap di sekitar. Mata saya sudah bisa memindai keadaan sekeliling dengan sangat baik. Saya juga berkali-kali mengingatkan Agung untuk tidak menikung kendaraan yang ada di depan. Kalian tahu kenapa? Karena ditikung itu rasanya nyesek banget. Njiirr malah curat -___-
Mendapati kondisi jalan yang sangat berbahaya, kami meningkatkan koordinasi antara barisan depan (Ferry) dengan barisan belakang (saya-kocil, red) melalui Handy Talkie (HT). Melalui HT inilah kami saling memberi informasi, kapan harus tancap gas, kapan harus memperlambat kecepatan, laporan tentang kondisi masing-masing anggota, dan lain-lain. Dan kalian tahu? Ketika saya memegang HT sementara motor yang saya naiki meliuk-liuk dengan gesit menghindari jalan berlubang di antara tikungan tajam dan terjal, saat itu saya merasa keren dan tampan sekali. *ditabok berjamaah*

Sebentar, ada cewek cakep lewat di depan kosan tuh. Lihat dulu ah, siapa tahu dia jodoh saya.

Anjaayy... ternyata ibu-ibu pake tanktop *abaikan*  -,-

Lanjutt...

Ada satu kejadian yang membuat kami tersentak kaget saat melintasi tikungan menanjak. Motor yang dikendarai Bambang tiba-tiba selip di tengah jalan dan hampir terjatuh. Spontan, kami berhenti dengan perasaan cemas. Saya turun dari motor dan langsung menghampiri Bambang untuk memastikan apa yang terjadi. Namun situasi sudah aman terkendali karena di sana sudah ada Bagus yang membantu Bambang. Kami pun lega dan mulai meneruskan perjalanan. Selidik punya selidik, menurut hasil investigais rekan kami, si Bambang katanya mendengar teriakan perempuan di ujung pepohonan sana. Teriakan itu diduga adalah kuntilanak. Hiiiihhh! Serem! Etapi, jangan-jangan si Bambang dikira bapaknya, makanya diteriakin sama kuntilanak buahahaha...
Kurang lebih satu jam setengah, jalan terjal tersebut berhasil kami taklukan. Sekitar jam empat subuh, kami tiba di Pelabuhan Ratu, tepatnya di sebuah Alfamart yang bersebelahan dengan masjid. Di sanalah kami akan melepas lelah sekaligus menunaikan sholat subuh bagi anggota ARP yang beragama Islam.
Sambil menunggu adzan subuh, kami melepas lelah dengan mengobrol, bersenda gurau, bertukar cerita, menertawakan hal-hal konyol yang kami temui sepanjang perjalanan tadi, atau apa pun yang bisa ditertawakan.




Meski pun wajah kami terlihat sangat lelah, tapi percayalah, semangat kami tidak ciut barang sedikit pun. Semakin berliku jalan yang kami lalui, maka semangat kami akan semakin membara. *oke, bagian ini lebay* :D
Ada satu hal yang lupa saya sampaikan. Touring kali ini terasa istimewa karena walaupun nama ARP berbasis Asuransi Harta, namun pada dasarnya ada juga anggota ARP yang berasal dari asuransi/broker lain. Di antaranya ada Janner dari Indosurance Broker Utama (IBU), Anto dari Mitra Harmoni Indonesia (MIH), Arfian dari FPG Insurance, Rian Tanoto dari KSK Insurance, siasanya tentu dari Asuransi Harta Aman Pratama.
Namun saat logo ARP melekat di dada kami, almamater kantor seolah tak berarti. Kami melebur menjadi satu kesatuan dan hanya ada satu nama. ARP (Aku Rindu Padamu) ahelah… salah denk. ARP (AHAP RIDERS PROTECTION) dengan motto TOURING IS ADVENTURE.
Menariknya lagi, selesai touring biasanya selalu ada serpihan cerita yang belum tuntas, menyisakan gosip-gosip sedap bertema Kasih Tak Sampai, atau Cinta Diam-Diam, atau bisa juga bertema Cinta Segi Tiga. Bahkan ada yang berangkat touring dengan hati kosong, bisa pulang dengan hati berbunga-bunga karena telah menemukan belahan dadanya, eh salah, belahan hati maksudnya :p. Selebihnya, tinggal siapkan mental sekuat baja. Karena esok harinya pasti bakal di-ciecie-in. Begitulah seru-seruan ala kami.
Cerita cinta ala ARP akan saya bahas lebih lanjut di Chapter 2 nanti. Sabar ya. Sekarang mari kita kembali ke jalan benar.

Lanjuut…

Selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, sekitar jam setengah enam pagi, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Jalan yang kami lalui pagi ini berbeda dengan jalan yang kami lalui malam tadi. Jalannya lebih bersih dan bersahabat. Tidak ada lubang-lubang berbahaya mau pun belokan-belokan tajam. Hanya saja, tanjankan dan turunan yang lumayan terjal. Atas instruksi dari Ferry, kami sepakat untuk menambah kecepatan agar sampai ke Sawarna tidak terlalu siang.
Kami melewati perkampungan yang asri. Beberapa warga tampak berlalu lalang di pinggir jalan dengan kesibukan masing-masing. Kebanyakan adalah pekerja tani dan kebun. Itu terlihat dari perangkat yang mereka bawa ketika melintas di jalan raya. Ada juga anak-anak sekolah yang berjalan kaki. Mereka tampak sederhana dan bersahaja. Selain itu, nuansa perkampungan di sana kental sekali. Udaranya sangat sejuk. Pepohonan rindang serta rumput-rumput hijau menemani kami sepanjang perjalanan. Tapi petualangan kami belum selesai. Masih ada satu hal lagi yang harus ceritakan di sini.
Di suatu belokan yang lumayan menurun, mata kami terpaku pada sebuah pemandangan yang sangat indah. Demi melihat pemandangan tersebut, kami sepakat untuk berhenti sejenak.

This is it! Mereka bilang ini Sunrise.



Setelah puas berselfie ria dan mengabadikan diri bersama 'sunrise', kami kembali bergegas. Kurang lebih satu jam kemudian, kami akhirnya sampai di tempat tujuan. Villa di Sawarna yang kami sewa ternyata lumayan mewah dan nyaman. Ada lima kamar yang sudah tersedia untuk kami. Selain itu, kedatangan kami disambut oleh pemilik dengan ramah. Kami juga langsung disediakan menu sarapan berupa nasi kunning dan kawan-kawannya.





          Tanpa menunggu lagi, menu sarapan langsung kami santap sampai habis. Setelah kenyang, sebagian di antara kami ada yang langsung mandi dan tidur. Sebagiannya tetap terjaga sambil menikmati panorama indah yang terhampar di hadapan kami.

         Sampai sini dulu ya, Guys. Saya akan kembali dengan cerita yang tidak kalah seru. Tentang serunya kami bermain ombak, api unggun, serta cerita cinta ala ARP. Nantikan lengkapnya dio ARP GOES TO SAWARNA: CHAPTER 2.

Babayyy.....
*dadah-dadah kayak artis lewat di depan ke penggemarnya*

1 komentar: