Oleh: @Amad_Kocil
Mata Rehan tidak berkedip
untuk beberapa saat, menatap angka pada kalender yang dilingkarinya beberapa
bulan lalu. Perlahan, bibirnya mengulum senyum ketika menyadari bahwa hari yang
sangat dinantinya akan segera tiba. Ada binar kebahagiaan yang terpancar di
matanya, menunjukkan bahwa ia siap menyambut datangnya hari itu.
“Sebentar lagi,” gumamnya.
Dengan senyum masih
mengembang, Rehan meraih bingkai kecil yang berdiri tegak di atas meja kerja.
Matanya lekat menatap wajah cantik dalam bingkai itu.
Kecantikannya tampak sempurna dengan balutan kerudung biru. Ada kelembutan dan kesetiaan yang tersirat di matanya. Gadis itu, satu-satunya alasan Rehan merantau ke ibu kota, meninggalkan keluarga, sahabat dan kampung halaman demi cinta yang mendarah daging dalam dirinya.
Kecantikannya tampak sempurna dengan balutan kerudung biru. Ada kelembutan dan kesetiaan yang tersirat di matanya. Gadis itu, satu-satunya alasan Rehan merantau ke ibu kota, meninggalkan keluarga, sahabat dan kampung halaman demi cinta yang mendarah daging dalam dirinya.
“Tunggu aku, Aisyah....”
**********
Minggu siang. Kereta yang ditumpangi Rehan perlahan melaju semakin jauh meninggalkan
Stasiun Gambir. Berbagai macam perasaan tiba-tiba berkecamuk dalam hatinya. Membayangkan
apa yang akan dikatakan oleh ibunya setelah ia menghilang selama satu tahun. Ia
berharap tidak dicap sebagai anak durhaka yang tega meninggalkan ibunya sendirian,
setelah ayahnya meninggal tiga bulan sebelum kepergian Rehan. Belum lagi Ihsan,
sahabatnya sejak kecil. Saat Rehan pergi, Ihsan sedang terbaring sakit. Harusnya
ia ada di sana saat dua orang yang disayanginya membutuhkan kehadirannya.
Tidak mau larut dalam
penyesalan, Rehan memaksa pikirannya berubah haluan kepada Abi Jalal untuk membenarkan
tindakannya meninggalkan kampung halaman. Pikirannya melayang kembali kepada
memori menyakitkan satu tahun silam. Bagaimana
Abi Jalal dengan terangan-terangan menolak lamaran Rehan kepada Aisyah. Kata
cacian dan makian terlontar begitu saja, meluncur deras dari mulut Abi Jalal.
“Sudah punya apa kamu berani
melamar Aisyah? Saya tidak mau punya menantu seorang guru ngaji yang kerdil,
yang hidup dari hasil kencleng mesjid. Pergilah! Datang lagi ke sini kalau kamu
sudah mapan.”
Hati Rehan hancur berkeping-keping seperti
pecahan beling yang berserakan. Tak dinyana, laki-laki tua yang dihormati warga
kampung itu tega mengata-ngatainya sedemikian menyakitkan.
Hidup dari hasil kencleng mesjid. Kata-kata itu bagaikan sebilah belati tajam yang merobek jantung Rehan.
Hatinya kian tersayat mendapati Aisyah menunduk sambil menitikkan air mata.
Rehan tak kuasa melihat gadis yang dicintainya menangis tersedu. Ummi Diah -ibunya
Aisyah- pun tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau hanya mengusap lembut punggung
putrinya.
Malam hari setelah kejadian
itu, Rehan menemui Aisyah untuk pamit.
”Ke manapun aku pergi, aku
berharap kamu bersedia menungguku. Aku janji, Aisyah, aku akan kembali untuk menikahimu.”
Aisyah hanya mengangguk. Mulutnya
kaku, lidahnya kelu, ia tidak mampu berkata-kata. Membiarkan Rehan pergi
bukanlah hal yang mudah baginya. Sebaliknya, menahan Rehan pergi pun tidak akan mengubah apa-apa. Malam itu, Rehan pergi
meninggalkan cintanya. Tanpa menoleh lagi. Seolah tidak peduli meskipun Aisyah
tersedu.
Tiga jam lebih Rehan tenggelam
dalam lamunan masa lalu. Tanpa terasa kereta yang ditumpanginya sudah sampai di Stasiun Bandung. Kota kelahiran Rehan sekaligus tempat ia
tumbuh besar merajut sejuta kisah.
**********
Rehan sampai di sampai di
sebuah rumah kecil. Dari dalam sana, samar-samar terdengar suara wanita tua
melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Suara itu terdengar lirih, setengah
menangis. Seolah sedang mengadu kepada Tuhan tentang kesendiriannya.
“Assalamu’alaikum....” Mata
Rehan menyelidik ke setiap sudut rumah. Mencari sosok wanita tua yang
dirindukannya.
Seketika suara lantunan ayat
suci itu berhenti, lalu terdengar seseorang menjawab salam. Beliau masih
mengenakan mukena ketika keluar dari kamar. Benar saja, wajahnya semakin menua,
pada bagian pipi dan dahinya ada banyak kerutan, namun masih ada kesejukkan
yang terpancar dari matanya. Mata sejuk itu terpaku mendapati Rehan berdiri
mematung di hadapannya. Anak satu-satunya yang setahun lalu menghilang, kini
sudah kembali.
Tanpa menunggu sang ibu
berkata-kata, Rehan menghampirinya, mencium tangannya lalu merengkuh tubuh tua
itu dalam pelukannya.
“Kamu ke mana saja, Nak?”
tanya sang ibu. Lirih.
“Maafkan Rehan, Bu....” Rehan
tersedu, air matanya mengalir deras hingga membasahi punggung sang ibu.
Tidak sampai di situ. Batin
Rehan menjerit, merutuki diri sendiri yang durhaka kepada ibunya demi cintanya
kepada perempuan lain. Perlahan tubuh Rehan merosot, memeluk kaki sang ibu.
Tangisnya semakin menjadi.
Beliau mengangkat tubuh Rehan
lalu menatap wajah anaknya dengan lekat. Anak kesayangan satu-satunya, kini
sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Beliaupun menitikkan air mata, meneteskan rindu
yang teramat sangat dari kedua sudut matanya.
**********
Hari sudah sore, ibu dan anak
itu duduk di kursi kayu rumahnya sambil menikmati segelas teh manis hangat. Rehan
bercerita banyak hal tentang perjalanannya mencari kerja di Jakarta. Berbekal
ijazah D3, Rehan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan asuransi. Menjadi
pegawai tetap dan mempunyai penghasilan yang lumayan. Rehan juga tidak lupa
mengutarakan niat untuk menikahi Aisyah secepatnya.
“Bu, Rehan ingin segera
menemui Abi Jalal. Rehan ingin membuktikan kepada Abi Jalal bahwa Rehan sudah pantas
menjadi pendamping hidup Aisyah.”
Sang ibu menatap Rehan sesaat,
lalu menghembuskan napas dengan berat. “Kamu ketinggalan banyak berita, Nak.
Tentang Abi Jalal, Aisyah dan Ihsan...,”
“Oh, iya, bagaimana kabar
Ihsan, Bu?” Rehan memotong kata-kata ibunya. Ia ingat terakhir kali
meninggalkan kampung halamannya, Ihsan sedang dalam keadaan sakit.
“Rehan harus segera
menemuinya. Tapi sebelum itu, Rehan akan menemui Aisyah terlebih dahulu,” kata
Rehan lagi tanpa menunggu sang ibu menjawab pertanyaannya.
“Nak, ibu tahu, sejak dulu
kamu memang pantas menjadi pendamping hidup Aisyah. Tapi kalau Alloh memilihkan
laki-laki lain untuk Aisyah, kamu harus pasrah menerimanya.”
“Maksud Ibu?”
“Temuilah Aisyah sekarang.
Lebih baik kamu mendengarnya langsung dari Aisyah. Dan satu lagi, lupakan
dendammu kepada Abi Jalal. Itu hanya akan mengotori hatimu.”
Selesai mendengar petuah sang
ibu, Rehan bergegas menuju rumah Aisyah. Lagi-lagi batin Rehan berkecamuk,
mengingat Abi Jalan yang pernah mencabik-cabik harga dirinya. Memori itu pun
sekilas terbayang kembali dalam benaknya. Sudah
lama aku menunggu hari ini, lihatlah aku yang sekarang! Batin Rehan,
melupakan petuah sang ibu.
Diketuknya pintu rumah Aisyah
sambil mengucapkan salam. Tidak perlu lama menunggu, suara seorang gadis
terdengar menjawab salamnya dari dalam rumah. Gadis itu berjalan mendekati
pintu. Sesosok gadis muda dan cantik, dengan balutan busana muslim yang anggun,
menyambut Rehan di ambang pintu.
Wajah gadis itu tetap cantik
seperti yang diingatnya sejak Rehan pergi. Lantunan bait nestapa yang selama
ini menyiksa batinnya berubah menjadi lantunan ayat-ayat cinta, merapikan
kembali kepingan hatinya yang porak poranda.
Asiyah masih mematung. Bola
hitam matanya menelisik, hendak memastikan bahwa laki-laki yang kini berdiri di
hadapannya adalah Rehan, laki-laki yang rela meninggalkan kampung halaman demi
memperjuangkan cintanya. Dua anak manusia itu kini dipertemukan lagi. Rindu di
hatinya pun menguap bersamaan dengan lembaran angin yang berhembus sore itu.
Mereka duduk di kursi teras. Aisyah
tidak mempersilakan Rehan masuk karena saat itu ia sedang sendirian di rumah. Sebagai
mantan guru ngaji, Rehan sangat paham akan hal itu.
“Bagaimana kabarmu, Aisyah?”
Rehan membuka percakapan.
“Alhamdulillah, aku baik.”
Aisyah kemudian menundukkan pandangan, ia tidak berani bersitatap terlalu lama
dengan Rehan.
“Syukurlah....”
Hening....
“Ke mana Abi?” tanya Rehan
lagi.
“Untuk apa kamu menanyakan
Abi? Kamu sudah terlambat, Han. Kamu tidak bisa menemuinya lagi.”
Rehan melayangkan tatapan
penuh tanya kepada Aisyah.
“Sejak kejadian itu, setiap
hari Abi mencarimu. Bahkan berkali-kali menanyakan kabarmu ke pada ibu. Abi
merasa bersalah.” Aisyah berhenti sesaat. Menyeka butiran bening yang mulai
menitik di kedua sudut matanya.
“Kemudian Abi sakit. Kamu
tahu? Di hari terakhirnya, Abi menitipkan permintaan maaf untuk kamu dan ibu.
Abi benar-benar menyesal, Han. Seandainya saat itu kamu tidak pergi....” Aisyah
tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Hatinya terlalu rapuh untuk menahan
kesedihan mengingat kepergian sang ayah.
Rehan hanya tertegun.
Menyesali kebenciannya terhadap Abi Jalal. Selama ini ia bekerja keras, demi
mengembalikan harga dirinya di depan Aisyah dan Abi Jalal. Wajah Rehan semakin
redup, turut merasakan kesedihan Aisyah. Sama seperti dulu, Rehan tidak pernah
rela melihat Aisyah menangis. Apapun alasannya.
“Aku turut berduka cita.
Maafkan aku, Aisyah.” Rehan akhirnya berucap.
“Tolong, Han, maafkan Abi.
Biarkan Abi tenang di sana....” Aisyah sekali lagi menyeka air mata dengan
tepian jilbab yang dikenakannya. Lalu memaksa wajahnya kembali tegar.
“Aku sudah memaafkan Abi.
Maksud kedatanganku ke sini....,” Kali ini giliran Rehan yang menghentikan
kata-katanya. Ia baru menyadari ada sesuatu yang melingkar di jari Aisyah.
“Dan satu hal lagi,” Aisyah
tahu apa yang akan diucapkan Rehan. “Kamu terlambat memenuhi janjimu. Maafkan
aku, Han. Aku sudah bertunangan dengan laki-laki lain.”
Aisyah memberanikan diri
mengangkat wajahnya. Menatap Rehan beberapa saat. “Sekian lama kamu menghilang,
aku tidak tahu harus berapa lama menunggu. Sementara pinangan dari laki-laki
lain terus berdatangan. Aku tidak sanggup untuk menolaknya.”
Untuk kali kedua, di tempat
yang sama, hati Rehan hancur berkeping-keping, remuk redam, tak tersisa. Mimpi
untuk merajut rumah tangga bersama gadis pujaannya kembali kandas.
Pengorbanannya meninggalkan sang ibu, sahabat, dan kampung halaman, hanyalah
berbuah pahit. Di tempat yang sama ia kembali menelan pilu.
Ia gagal membuktikan kerja
kerasnya ke pada Abi Jalal. Lalu Aisyah, gadis yang di perjuangkannya
habis-habisan akan menjadi halal bagi lak-laki lain. Dua pukulan telak
menghantamnya sekaligus. Bertubi-tubi.
Kenyataan pahit itu membuat Rehan
merasa asing di kampung halamannya sendiri. Ia seperti kehilangan segalanya.
Kini, selain ibunya, orang kedua yang menjadi alasan Rehan untuk tetap tinggal
di kampung itu adalah Ihsan. Satu-satunya sahabat yang ia miliki sejak kecil.
“Boleh aku tahu siapa
laki-laki itu?” tanya Rehan sebelum pergi.
“Ihsan. Dia laki-laki terakhir
yang melamarku.”
**********
Hai Amad! :D
BalasHapusTulisanmu cukup bagus dan mengalir dengan lancar. Ada dua hal yang sebenarnya masih kurang pas menurutku, yaitu waktu yang dibutuhkan Ihsan untuk menganggap dirinya mapan (hanya satu tahun mencari kerja di Jakarta? Dan banyak sekali peristiwa yang terjadi pada selang waktu itu? Rasanya masih kurang logis ^^x), dan alasan kenapa ayahnya Aisyah tiba-tiba sakit gara-gara merasa bersalah pada Rehan (rasanya juga masih kurang logis, latar belakang emosionalnya masih kurang terbangun). Selebihnya, tulisan ini menyenangkan untuk dibaca. :D
Oh ya, aku owner dari CariPenulis.com (@CariPenulis_Com on Twitter)
Semangat menulis! :D
Terimakasih banyak, mimin. Bakal jadi bahan evaluasi. :)
Hapus